May 11, 2006

Jalu

ILLUSTRATED BY SANDY BYERS
TIGA bulan sejak kepergiannya, Jalu pulang ke rumah. Semula aku ragu ia adalah Jalu, anggota keluarga yang pernah menjadi bagian dari keriangan dan kasih sayang kami. Ciri-cirinya sudah sulit dikenali. Di tempat yang seharusnya tumbuh bulu, tersisa carut-carut luka bakar dan kulit kemerahan yang lengket. Daun telinganya rusak. Ekornya buntung. Apa pun yang menjadi ciri utama seekor kucing nyaris hilang, kecuali eongannya yang memilukan.

Aku berdebat terlebih dahulu dengan istriku, melawan pendiriannya. “Terserah! Jalu atau bukan, aku tak mau ikut campur,” aku mengancam, meninggalkan istri dan anak-anakku di garasi bersama pasiennya.

Ini bukan pertama kali kami bertengkar soal hewan yang terluka atau kelaparan yang, entah kenapa, selalu datang ke rumah memohon welas asih. Dan setiap kali pula aku menyerah pada kelembutan istriku, sebelum memilih untuk menyayangi hewan-hewan itu.

Sikap tak mudah menyayangi hewan, kurasa, terkait dengan pengalaman masa kecilku. Hewan-hewan piaraanku – kebanyakan anjing – mati karena alasan yang tak jelas, menurut ukuran anak kelas empat SD waktu itu. Pernah suatu kali aku menemukan burung tekukurku mati mendadak. Aku memergoki Nero, seekor anjing kampung yang gagah, menggonggong di depan kandang. Om Ramlan, seorang anak buah ayahku yang tinggal di rumah, memastikan burung itu mati ketakutan diteror Nero.

Petang harinya, ketika hendak memberi makan, aku tak melihat Nero. Aku mencari ke sana ke mari sambil memanggil-manggil namanya. Seluruh penghuni rumah tak ada yang tahu, kecuali Om Ramlan. Disertai nenek, ia menjelaskan duduk perkaranya. Bahwa setelah melihat tekukur mati, ia memutuskan untuk mengobati kesedihanku. Dengan suara turun dua oktaf dari biasanya, Om Ramlan berterus-terang telah membereskan Nero. Dalam satu hari, aku pun menangis dua kali.

Dua kematian yang berlangsung sehari, mungkin telah dilupakan Om Ramlan sepanjang sisa hidupnya. Sementara aku mengenangnya sepanjang sisa hidupku, banyak momen sepele yang tak terduga antara peduli dan masa bodoh terhadap nasib hewan liar seperti Jalu. Dengan wujudnya sekarang, aku malah berharap sebaiknya ia tak kembali. Lebih baik ia mati daripada hidup menderita.

Nama Jalu membuatku tak terkendali. Dua tahun yang silam, ia seekor kucing mungil yang malang. Di saat usia yang semestinya menyusu, ia kutemukan di dalam got depan rumah. Ia terpisah dari saudara-saudaranya. Ibunya mungkin putus asa mencarinya. Mungkin juga tak peduli, kawin lagi dengan kucing lain yang lebih mapan. Jadi, aku yang kemudian mengambil alih tanggung jawab.

Hari demi hari, Jalu tumbuh menjadi seekor kucing yang terpandang. Bulunya lebat selembut kapas, berwarna coklat muda-putih, bersih kemilau di siang hari. Tubuhnya terkesan kekar, menyembunyikan lemak hasil kemalasannya. Reputasinya memang tak bisa dibanggakan. Hanya kalangan tikus ingusan yang mengira Jalu seekor kucing yang tangkas dan tangguh. Selebihnya, ia tak lebih dari buntelan kapuk yang menyerupai kucing. Meski begitu, kami sekeluarga bangga dan menyayanginya.

Jalu memang seekor kucing, tapi ia tidak bodoh dengan menerima kehidupan monoton seumur hidup. Kami memaklumi jika sesekali ia ke luar rumah, mengendurkan otot, menghirup hawa pagi sambil menebar pesona pada para betina. Namun, kehidupan bebas penuh tantangan menggoda Jalu terlalu jauh.

Sejak acara melancongnya yang pertama, Jalu lebih suka keluyuran ketimbang tinggal di rumah. Dan setiap kali pulang, ia tampak lusuh, compang-camping, limbung seperti seorang pemabuk amatir. Tak jarang tubuhnya terluka, kakinya pincang, kelopak matanya berdarah akibat perkelahian tak seimbang. Istriku yang biasanya mengobati luka-luka itu. Tak heran jika ia lebih mengenal rupa Jalu daripada siapa pun.

Kejadian nahas tak pernah menjadikan Jalu jera. Sebaliknya, pola hidupnya semakin serampangan dan kurang ajar. Berkali-kali aku harus membersihkan karpet dari muntahannya dan membuang kotoran perutnya dari lantai dapur. Tepat di tapal batas kesabaran, pada suatu malam mulailah kupacu mobil sejauh empat kilometer untuk menjalankan misi rahasia. Persis di depan Pasar Cisalak, Jalu kuturunkan, “Good night and good luck.”

Nyatanya, ia benar-benar lucky cat. Padahal, tak banyak orang berperasaan seperti istriku terhadap Jalu, terutama mereka yang belum pernah melihatnya. Di dalam keranjang bekas parsel, tempat Jalu terbaring menjalani perawatannya, seringkali ia menatapku. Kucing sialan ini membuatku merasa bersalah.

Aku mulai melakukan apa yang bisa kuperbuat. Sementara istriku mengganti kain kasa yang membebat luka-lukanya, aku dan anak-anak bergantian menyuapinya susu dan air dengan pipet hingga ia dapat makan sendiri.

Tapi, Jalu tak pernah menjadi kucing yang kuat. Pada suatu pagi yang mendung, aku menemukannya terbujur kaku di lantai teras. Tubuhnya dingin, jantungnya berhenti berdetak. Istri dan anak-anakku berhamburan. Aku segera mempersiapkan penguburan yang pantas di halaman belakang rumah.

Sepekan sesudah kematiannya, aku belum berhenti menyalahkan diri sendiri. Aku mulai berpikir banyak hal yang diajarkan Jalu kepada kami: kesabaran, ketulusan, pantang surut memberi pertolongan, dan keberanian bersikap teguh meskipun banyak orang meragukan. Dari lubuk hati aku berbisik, “Maafkan aku, Jalu.”

Cimanggis, 8 Maret 2006

May 10, 2006

Inspirasi dari Bung Karno

PHOTO BY WIKIPEDIA
Ia mungkin bukan kepala keluarga yang bijak. Bukan pula suami yang adil bagi istri-istrinya. Namun, tak ada keraguan bahwa Soekarno adalah figur ayah yang baik bagi anak-anaknya.

Anakku, simpan segala yang kau tahu. Jangan ceritakan deritaku dan sakitku kepada rakyat. Biarkan aku menjadi korban, asal Indonesia tetap bersatu. Ini aku lakukan demi kesatuan, persatuan, keutuhan, dan kejayaan bangsa.

Jadikan deritaku ini sebagai kesaksian, bahwa kekuasaan seorang presiden sekali pun, ada batasnya. Karena kekuasaan yang langgeng, hanyalah kekuasaan rakyat dan di atas segalanya adalah kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa.

BAHKAN menjelang ajalnya, ia masih memikirkan masa depan bangsanya. Seorang pecundang takkan pernah melakukan hal itu. Tapi, ia juga bukan pemenang dalam arti sesungguhnya. Ia hanyalah seorang lelaki sukses dari masa lalu yang sekarat di bawah terik politik. Jadi, sekali seumur hidup ia bukanlah siapa-siapa; ia hanya seorang ayah yang menyampaikan pesan terakhir kepada putri tertuanya, Diah Permata Megawati Setiawati Soekarnoputri.

Soekarno, sang ayah itu, meninggal dunia pada 21 Juni 1970 atau 15 hari setelah ulang tahunnya yang ke 69. Secara medis, ia takluk pada penyakit batu ginjal. Tapi secara psikis, kesendirianlah yang membunuhnya setelah bertahun-tahun Pemerintah Orde Baru mengisolasi BK dari “dunia luar”.

Sebagai lelaki normal sikapnya sulit diteladani oleh spesies mana pun yang setia pada pasangannya. Meski begitu, poligami bukan semata-mata hasrat overdosis lelaki macam BK; ia juga merupakan kompleksitas perempuan sendiri. Misalnya, mengapa seorang perempuan sudi menikah dengan lelaki beristri?

Bagaimana BK sebagai ayah? Tak mudah menjadi ayah sekaligus pemimpin bangsa dalam kemelut sejarah. Tak jarang, BK membesarkan anak-anaknya di tengah pusaran revolusi. Suatu kondisi yang jauh dari normal untuk hidup berkeluarga. Ketika Megawati lahir, bersama anak istrinya ia beberapa kali mengungsi dari ancaman teror. Sebegitu beratnya beban seorang ayah, terlukis saat kelahiran putra sulungnya (1944), Mohamad Guntur Soekarnoputra. Katanya, “Apa pun jadinya ia kelak, semoga tidak menjadi presiden. Kehidupan itu sungguh berat.”

Inspirasi 1 – Keakraban di meja makan
Jika ada tamsil yang menyatakan, demokrasi bermula dari meja makan, sudah lama BK menerapkannya. Pada masa itu, makan sambil ngobrol sebagaimana dilakukan oleh Bung Karno bersama anak-anaknya bukan kebiasaan yang jamak. Bukan saja dari etiket, tapi juga kesempatan yang dimiliki orang sesibuk presiden. Namun bagi keluarga BK, meja makan adalah forum keakraban sejati.

Tak pelak, prinsip mempersatukan elite politik gaya BK adalah alle leden van de familie een eet-tafel (seluruh anggota keluarga duduk bersama di satu meja makan). Terlihat dalam susunan kabinet, di antaranya ada nama J. Leimena (suku Ambon) dan Oei Tjoe Tat (etnis Tionghoa).

Sikap tersebut sulit dimengerti mengingat BK lahir dan dibesarkan oleh keluarga priyayi. Ia hidup berlatar belakang zaman dan masyarakat kolonial Hindia Belanda dengan status quo yang karatan dan gila hormat. Pendidikan BK di ELS (Europese Lagere School/Sekolah Mengengah Belanda), menempatkannya dalam kalangan atas masyarakat Indonesia kala itu. Saat ia mengawali karier politik pada 1927, tak lebih dari 78 orang Indonesia yang mengantungi ijazah HBS (Hogere Burger School/setingkat SMU). Lebih sedikit lagi jumlah orang Indonesia tamatan universitas. BK lulus dari Technische Hoge School atau Institut Teknologi Bandung (ITB) sekarang tahun 1926.

Meski turunan priyayi, BK menentang penggunaan bahasa kromo dan ngoko untuk membedakan kelas sosial. Ia sendiri menggunakan bahasa ngoko yang digunakan rakyat jelata di Jawa.

Dalam santap bersama itulah, selain berdiskusi BK membagi banyak hal kepada putra-putrinya. Mulai soal memilih pacar, pandangannya tentang kolonialisme dan imperialisme (termasuk isme-isme lain) yang ditentangnya, hingga sejumlah rahasia negara.

Kedekatan dengan mereka memang terkesan melebihi keintiman hubungan ibu dan anak-anaknya. Tanpa banyak pertimbangan, BK mau mengunjungi bazar sekolah Guntur. Ini yang membikin pasukan pengawal kepresidenan tak punya cukup waktu mengamankan wilayah kunjungannya.

Benar saja. Selagi asyik mengamat-amati aneka gerai di bazar, serangkaian granat meledak. Insiden yang melukai sejumlah pengunjung, itu kemudian dikenal sebagai Peristiwa Cikini 1957. Ketulusan hati BK agaknya yang meloloskan dirinya dari percobaan pembunuhan.

Inspirasi 2 – Memarahi tanpa menyakiti hati anak
BK paling tahu menyenangkan hati anak-anak. Tahun 1956, tatkala berkunjung ke Amerika Serikat, BK membawa Guntur menemui Roy Rogers. King of Cowboys ini diidolakan oleh anak lelaki pada masa itu. Bukan cuma ketangkasan menarik pistol dari sarungnya di televisi, tapi kemahirannya memainkan gitar.

Semasa bocah (1957-1958), Guntur suka bermain perang-perangan di halaman Istana Merdeka. Para anggota Detasemen Kawal Pribadi (DKP) asal kesatuan Brigade Mobil (Brimob) yang sering meladeninya. Dalam permainan ini, Mas Tok – begitu ia dipanggil – dijuluki Jendral Bledèk.

Suatu kali, saat “perang memanas”, komandan jaga istana berlari ke arahnya. Sang komandan meminta “gencatan senjata”. Sebab, permainan tersebut sempat disalahpahami oleh patroli KMKB (seperti Kodam) yang melintas di depan istana. Mereka melihat pasukan pengawal istana tengah mengambil posisi tempur.

Pulang dari Bogor, BK memanggil Mas Tok. “Hei Tok, aku dapat laporan kau bikin geger petugas keamanan Jakarta, ya? Keadaan gawat begini ndak usah main perang-perangan dulu. Nanti kalau sudah normal saja. Kau jadi jendral, ya? Ini, Bapak punya buku bagus tentang jendral. Bacalah. Dia adalah salah satu jendral favorit Bapak,” tutur BK, seraya menyodorkan buku biografi mantan Gubernur Georgia, AS, Jendral Kavaleri William Sherman.

Begitu pula lain waktu, menjelang kelulusan SMA (1962), Mas Tok ngambek pada ayahnya. Kendati permintaan Mas Tok sangat simpel, toh tetap tak diberi. Ia hanya ingin tidak lagi dikawal. Di mata Mas Tok dan adik-adiknya, pengawalan membuat mereka risih dan merasa dimata-matai. Maka, untuk kesekian kali, ia memberanikan diri menghadap ayahnya.

“Kan Bapak sudah bilang, itu tidak bisa. Peraturan protokuler negara ndak mengizinkan. Eh, kenalkan Bapak sama pacarmu. Aku ingin tahu. Cantik, ndak? Kenapa, dia minta putus? Kalian masih cinta monyet. Kenapa kau tidak cium dia? Ho ho, kau terlalu. Kau jangan bikin malu aku.”

“Ya ... Pak. Tapi gimana aku mau cium dia di depan pengawal?”

“Ya memang saru (tak sopan) ciuman ditonton orang. Ya sudah, begini saja. Bapak kasih kau hadiah lulus ujian, bulan depan kau boleh ngeluyur tanpa pengawal.”

“Terima kasih, Pak,” sahut Mas Tok berseri, bergegas ke luar kamar.

“Hei! Bulan depan, lapor soal ciuman tadi.”

“Ya, Pak.”

Inspirasi 3 – Welas asih terhadap makhluk ciptaanNya
Sikap humanisme BK tak terduga. Secara umum, ia dikenal membenci penjajahan dan penindasan. Faktanya, banyak sikap welas asih BK terhadap hewan dan tanaman dapat dicontoh. Sebagaimana kesaksian H. Mangil Martowidjojo, mantan Komandan DKP, dikisahkan BK sedang melakukan inspeksi mendadak ke asrama DKP. Melihat ada seorang pengawal yang memelihara burung, BK menegurnya.

“Kasihan burung itu. Biarkan dia mencari makan di alam bebas. Kamu orang belum mengalami bagaimana susahnya orang ditahan, dipenjarakan tanpa ada kesalahan. Maka, jangan ada pengawal saya memenjarakan burung dalam sangkar, sekali pun sangkarnya dari emas,” pesan BK.

Kegusarannya yang lain terlihat saat BK menonton film di istana. Di situ terdapat adegan seekor induk kijang kesakitan, ditembak seorang pemburu. Beberapa penonton cekikikan. Menurut mereka, adegan tersebut lucu. Tak disangka-sangka, BK menghardik, “Diam! Kamu orang itu tidak tahu rasa kasihan.”

Masih urusan kijang, BK pernah sangat marah sebelumnya. Waktu itu ia baru mengungsi di sekitar Kandangan, Jawa Timur, ketika Yogyakarta diserang Belanda pada 21 Juli 1947. Tahu bahwa hidangan dendeng daging adalah hasil buruan, BK lantas mengumpulkan semua pengawalnya.

“Kamu orang ini betul-betul tidak punya rasa kasihan kepada sesama hidup. Apa salahnya kijang itu kamu tembak? Bagaimana kalau kijang yang kamu tembak itu masih punya anak kecil yang masih pertolongan induknya? Apakah kamu di sini kekurangan makan?!”

Inspirasi 4 – Untuk para orangtua yang merasa dirinya berkuasa
Di puncak kekuasaannya, banyak gelar yang diselempangkan orang-orang ke pundak BK. Selain julukan Putra Sang Fajar – mengingat waktu lahir bertepatan dengan matahari terbit – dari ibunya, Ida Ayu Nyoman Rai, sederet alias disandang BK. Mulai Pemimpin Besar Revolusi, Penyambung Lidah Rakyat, Amirul Amri, hingga Panglima Tertinggi. Namun, lihatlah ketika BK di ujung kekuasaannya. Terutama saat opini publik – dibangun oleh orang-orang baru yang tengah berkuasa – menudingnya ikut bertanggung jawab atas Peristiwa G30S. Tiba-tiba, semua gelar itu dicopot, jasa dan peranannya dienyahkan. Maka, ini pun bukan persoalan BK semata. Atau, “siapakah BK?” Persoalannya ialah, “siapa kita sekarang?”
Cimanggis, 15 Mei 2006

May 7, 2006

Fundamentalis versus Progresif

ILLUSTRATED BY TIM SLOWENSKI
*Untuk Yasraf Amir Piliang
KEKERASAN mewarnai perlawanan masyarakat terhadap keberadaan perusahaan asing di daerah – itu kegagalan negara. Anarki mengancam pemilihan kepala daerah – itu kegagalan negara. Demonstrasi menyertai pro-kontra rancangan undang-undang – itu kegagalan negara. Kebrutalan umat beragama meruyak saat menghadapi penghayat “ajaran sesat” – itu kegagalan negara. Tak ada lagi ruang dialog bagi pertentangan pendapat – itu kegagalan negara. Betapa negara telah menjadi penjelasan yang begitu hebat bagi semua persoalan.

Saya berharap, Bung Piliang sedang bercanda ketika mencetuskan Demokrasi Fundamentalis (Kompas, 29 April 2006). Fundamentalis kelihatannya sekadar seloroh yang biasanya digunakan oleh kelompok liberal untuk menggambarkan kurangnya kedewasaan intelektual kelompok yang berpandangan konservatif. Ia juga tampak tidak serius ketika melontarkan pandangan sugestif, bahwa ada pertentangan antarfundamentalis dalam merespons persoalan mutakhir bangsa.

Pandangan tersebut tidak mengejutkan jika ditempatkan pada sebuah konteks amatan yang tepat. Sebuah perbandingan perlu menggabungkan pemahaman sejarah dan konteks peristiwa. Sukar dibayangkan jika dalam memahami fundamentalisme kita memisahkannya dari konteks sosial, ekonomi, dan politik yang merupakan salah satu pelecutnya. Namun, secara umum penyikapan terhadap sejumlah persoalan di Indonesia hari-hari ini – yang berakhir dengan huru-hara atau kekerasan – tidak lebih dari pertentangan antara kelompok fundamentalis dan kelompok progresif.

Klaim bahwa fundamentalisme penyebab terfragmentasinya masyarakat ke dalam kelompok sektarian, bisa diterima sebagai reaksi; bukan aksi yang sekonyong-konyong terlibat dalam konflik sekuler. Pembedaan ini penting, sekurangnya agar kita bisa memahami hakikat fundamentalisme dalam proporsi faktual. Sebab, kendati acapkali menggunakan aksi kekerasan, tidak semua fundamentalis berarti kekerasan sebagaimana tidak semua kekerasan bersifat fundamentalis. Bahkan seandainya kelompok sektarian terfragmentasi menjadi pelbagai pleton kecil masyarakat yang sama-sama fundamentalisnya, fundamentalisme bukanlah satu-satunya monster demokrasi yang menakutkan.

Pleton-pleton kecil tersebut umumnya bersifat dogmatis, doktriner, terlalu membesarkan-besarkan perbedaan kecil, dan beroperasi di luar batasan umum dalam sistem hukum. Sifat bawaan ini justru membuat mereka mudah terpecah-belah dan ditekuk negara.

Dengan corak yang ingin dikesankan sebagai watak fundamentalis, kelompok reaktif ini sebetulnya merupakan penyamaran (masquarade) dari premanisme. Pada kasus kerusuhan dalam pemilihan kepala daerah, gejalanya bahkan sudah terang-benderang. Tak terkecuali pada beberapa kasus, gejala penggunaan simbol atau atribut khusus juga bagian dari penyamaran untuk mencapai posisi tawar yang diharapkan. Singkatnya, refleksi kekerasan kaum fundamentalis sejati sebatas pretensi defensif (reaksi); bukan ofensif (aksi) dan partikular tanpa kejelasan artikulasi sebagaimana yang ditunjukkan oleh para preman.

Mereaksi Perubahan
Secara sosiologis, istilah “fundamentalis” ditujukan untuk menyebut gerakan-gerakan yang melancarkan reaksi terhadap persoalan akibat modernisasi. Di mata fundamentalis modernisasi adalah sumber segala kejahatan, seperti halnya kapitalisme dipandang dengan cara yang sama oleh kaum kiri revolusioner. Gerakan ini tumbuh dari komunitas lokal, berkembang secara persuasif dengan mengajak masyarakat luas agar taat pada tradisi nilai-nilai fundamental dan teks-teks otentik yang (dianggap) tanpa kesalahan. Tak segan-segan ia mencoba melirik kekuasaan politik – meraihnya jika diperlukan – demi mendesakkan kejayaan tradisi masa lampau.

Sebagaimana gerakan radikal lainnya, fundamentalis tidak berwajah monolitik terutama tentang watak kekerasan yang melekat dalam dirinya. Sebagian menganggap kekerasan sebagai suatu kewajaran – bahkan keharusan – sebagian lagi menentang keras. Perbedaan penyikapan terhadap kekerasan ini menentukan derajat toleransi mereka terhadap perbedaan atau the others.

Ukuran fundamentalisme sendiri dalam beberapa hal bersifat situasional. Penduduk Aceh dan Sumatra Barat mungkin sama-sama berhasrat untuk mengutamakan nilai-nilai tradisi keagamaan, melebihi ketaatan mereka terhadap norma-norma masyarakat. Penduduk Aceh tidak lebih fundamentalis ketimbang penduduk Sumatra Barat; penduduk Aceh hanya hidup dalam situasi yang lebih sulit.

Ketika menemukan “musuh bersama”, mungkin kita beranggapan bahwa kelompok fundamentalis akan bersatu. Memang demikian, seperti yang terjadi pada kelompok proRUU APP. Akan tetapi, kelompok kontra yang juga sama ngototnya tidak serta-merta merupakan fundamentalis. Atau, dalam tulisan Bung Piliang disebut “fundamentalisme keagamaan ultradogmatis” bertemu dengan “fundamentalisme kultural ultraliberalis.” Keduanya memang membela suatu prinsip yang menurut mereka fundamental, tapi tidak lantas kelompok kedua “harus” menjadi fundamentalis. Sebaliknya, kelompok kontra justru merepresentasikan relativisme, sesuatu yang amat dibutuhkan dalam demokrasi.

Relativisme praktis tidak mempertentangkan berbagai interpretasi atas kitab suci atau tradisi keagamaan, sehingga seharusnya ia mampu memuluskan interaksi sosial dan mengurangi munculnya pertentangan. Akan tetapi, relativisme justru merupakan ancaman bagi kaum fundamentalis yang mengklaim hanya ada satu kebenaran dan telah mereka dapatkan.

Oleh sebab itu, lebih tepat jika pertentangan mereka disebut “kelompok fundamentalis” bertemu dengan “kelompok progresif”. Kelompok pertama – ditandai oleh kelas sosial yang paling sedikit menikmati kesejahteraan ekonomi – menilai manusia berada dalam posisi sarat dosa dan berbahaya; mereka menuduh kelompok progresif sebagai iblis. Kelompok kedua, yang biasanya didukung oleh bukti kesuksesan manusia modern dalam mengendalikan dan memajukan lingkungannya, cenderung melihat kehidupan sebagai sesuatu yang baik dan membaik.

Peran Negara
Kegagalan negara umumnya disodorkan sebagai alasan ketika pertentangan antarkelompok masyarakat berujung kekerasan. Alasan tersebut cukup menentramkan, karena selain tak ada pihak yang bertentangan akan merasa dipersalahkan, negara bisa dipertukarkan dengan bersama.

Di masa lalu, saat demokrasi sosial gaya lama memandang keterlibatan pemerintah dalam kehidupan keluarga sebagai sesuatu yang terpuji, alasan tersebut masih relevan. Pada masa-masa di mana campur tangan negara terhadap pasar masih besar dan hak-hak politik warga terbelenggu, kegagalan negara pada banyak urusan merupakan tesis yang tak perlu diperdebatkan.

Globalisasi, betapa pun orang tak menyukainya, telah membuat demokrasi sosial gaya lama terpinggirkan. Ini tak berarti globalisasi menjadikan negara-bangsa sebuah “rekaan”, seperti klaim Kenichi Ohmae (The End of the Nation State: The Rise of Regional Economies, 1995), sehingga pemerintah pun usang. Pada kenyataannya, globalisasi hanya “mempreteli” negara-bangsa dalam arti bahwa kekuasaan yang dulu terpusat pada negara, kini diperlemah oleh tuntutan desentralisasi dan distribusi kekuasaan dalam masyarakat madani (civil society).

Badan-badan di luar pemerintah yang tak memiliki ciri transnasional tapi justru lokal, kini turut berperan dalam pemerintahan. Menurut Anthony Giddens dalam The Third Way: The Renewal of Social Democracy (1998), tak ada batas-batas permanen antara pemerintah dan masyarakat madani. Terkadang pemerintah masuk sampai jauh ke dalam arena masyarakat, kadangkala mundur dari arena itu, tergantung konteksnya. Situasi ini akan membuat negara akan kehilangan efektivitasnya jika ia bertahan pada pemusatan kekuasaan, apalagi bila dilakukan represif. Mau tak mau negara membatasi intervensinya.

Ketiadaan peran negara yang menyediakan “ruang dialog” bagi pertentangan antarkelompok masyarakat, hanya mengafirmasi tanda “negara tanpa musuh” (demokratis baru) versi Giddens, bahwa Indonesia di bawah pemerintahan sekarang memang menerapkan neoliberalisme. Mengikuti ortodoksi neoliberal – pasar-pasar global dibiarkan bebas menguasai, karena seperti pasar-pasar lainnya, mereka merupakan alat pemecah persoalan – pertentangan antarkelompok dewasa ini juga “dipaksa” menciptakan ekuilibrium.
Cimanggis, 30 April 2006