January 25, 2003

Uang Receh Sang Pemimpin

ILLUSTRATED BY F. BOTERO
HAKUL yakin, keputusan Mama Mega menaikkan harga BBM, tarif dasar listrik dan telepon akan mempercepat masa kekuasaannya. Keputusan itu mungkin the best among the worst, tapi mekanisme dan momentum yang diambil buruk. Pesan pernyataan ini sudah sangat jelas: keputusan yang buruk menimbulkan ketidakpercayaan.

Ini mirip dengan mendapatkan dan membelanjakan uang receh. Setiap kali seorang pemimpin mengambil keputusan yang baik, sakunya mendapatkan uang receh dari rakyat. Setiap kali seorang pemimpin mengambil keputusan yang buruk, dia harus membayarkan uang recehnya kepada rakyat. Jika seorang pemimpin mengambil keputusan yang buruk melulu, dia terus mengeluarkan uang receh, sampai dia sadar, bahwa tidak ada lagi uang receh di dalam sakunya. Jika kehabisan uang receh, tamatlah riwayat dia sebagai pemimpin.

Seorang pemimpin yang sedang mengumpulkan uang receh, harus memberikan teladan dalam kualitas kemampuan, koneksi, dan karakter. Rakyat akan memaafkan kekeliruan sesekali berdasarkan pada kemampuan, terutama jika melihat seseorang masih bertumbuh sebagai pemimpin. Namun, mereka takkan percaya kepada seseorang yang telah gagal dalam karakter.

Apa yang terjadi pada Soekarno, Soeharto, BJ Habibie, dan Abdurrahman Wahid, tak jauh dari kisah sang pemimpin yang kehabisan uang receh. Secara medis, Soekarno memang bergelut melawan penyakit batu ginjal, tapi boleh jadi kesendirianlah yang membunuhnya. Soeharto dikabarkan sakit-sakitan, tapi boleh jadi kebohonganlah yang menyelamatkannya. Habibie dikabarkan setia menunggu kesembuhan istrinya di luar negeri, tapi boleh jadi dia malu pulang ke Tanah Air. Abdurrahman Wahid pada akhirnya kembali ke Ciganjur, tapi jelas dia akan menjadi duri beracun bagi lawan-lawan politiknya menuju Istana Merdeka.

Soekarno, sebagaimana sama-sama kita ketahui, pada awalnya berhasil mengumpulkan banyak uang receh dari rakyat. Dia memikat lewat orasi-orasi hebat yang menangkap imajinasi rakyat tentang makna kemerdekaan. Rakyat mencintai dia, menyimak sungguh-sungguh setiap kalimat yang diucapkannya melalui radio transistor. Rasanya, disuruh telanjang bulat pun di Lapangan Banteng, rakyat mau.

Sederet gelar yang diselempangkan ke pundaknya – dari Putera Sang Fajar, Pemimpin Besar Revolusi, Penyambung Lidah Rakyat, Amirul Amri, sampai Panglima Tertinggi – sudah lebih dari cukup untuk membuktikan kebesaran Bung Karno. Tapi, keasyikan berlayar mengikuti angin “revolusi belum selesai” dengan perahu Nasakom, membuat Soekarno lupa daratan. Inflasi ratusan persen, beras sulit, kelaparan meruyak, demonstrasi merebak, membangunkan Soekarno perlahan dari mimpi-mimpinya. Sampai di sini kita tidak tahu pasti, kecuali bahwa kita menduga PKI/G30S merupakan salah satu bangsat terbesar dalam sejarah Indonesia. Wartawan Brian May melukiskan: Indonesia dilahirkan setelah sebuah penculikan; dilahirkan kembali dalam usaha kudeta; dan dibaptis dengan darah pembantaian.

Pemimpin baru bernama Soeharto muncul, bagai seorang tokoh epos Mahabarata dalam kemelut di Kerajaan Anumarta. Lewat mantra “atas nama pembangunan”, Indonesia di bawah kepemimpinan Soeharto meraih kejayaannya dengan kecepatan yang mendebarkan; mula-mula kebesaran ekonomi, tapi dengan bobot politik sebagai konsekuensinya. Dunia internasional memandang takzim keberhasilan Soeharto. Di dalam negeri, rakyat sudi memberikan sangat banyak uang receh kepada Soeharto.

Banyak hal tergantung pada cara Soeharto menjalankan hubungannya dengan militer. Hubungan militer dan Soeharto memang “sedekat gigi dan bibir”. Bagi Soeharto, militer adalah bagian penting dari strategi orde baru, salah satu kaki dari tiang pembangunan ekonomi berkaki tiga, dengan kaki lainnya pada orang Cina dan kroni-kroni Cendana. Ekonomi Indonesia yang dibangun oleh Belanda, setelah ditinggalkan oleh Jepang, dengan mudah direbut militer Indonesia, lalu oleh Soeharto disewakan kepada orang Cina.

Pada masa-masa ini, sementara pengusaha menangguk kekayaan guna meraih kekuasaan, pejabat negara meraup kekuasaan untuk menangguk kekayaan. Di antara keduanya, pejabat lebih beruntung lantaran merekalah yang membuat peraturan; mengendalikan polisi dan tentara. Sudah jadi rahasia umum bahwa pengusaha-pengusaha ada hanya untuk ditekan, diperas dan dimangsa. Cendana berada di puncak piramida pencatutan.

KKN yang merajalela di mana-mana, krisis moneter, gelombang demo besar-besaran, penculikan aktifis, kerusuhan diikuti penjarahan, sikap Golkar yang ményé-ményé, susutnya dukungan militer, memperjelas hari-hari Soeharto mulai bisa dihitung. Situasinya seperti akan terjadi gempa bumi, di mana binatang-binatang hutan mulai berperilaku aneh tanpa sebab musabab, berhamburan mendaki perbukitan. Keputusan Pak Harto membongkar pasang susunan kabinet, setelah mengangkat puteri sulungnya sebagai Menteri Sosial, tak juga memadamkan amarah rakyat yang sudah di ubun-ubun. Pada Mei 1998, tak sepeser pun dia mengantungi uang receh. Dia pulang ke Menteng meninggalkan Habibie yang ketiban sampur di Istana Merdeka dengan perasaan tak terbilang.

Dengan cepat Habibie memperoleh uang receh dari rakyat terutama kalangan pers. Sekali seumur hidup, rakyat terhibur oleh lagak dan mimik pemimpinnya yang lucu, cair, tidak angker seperti raja-raja Jawa. Kaum politik elit juga respek kepadanya, terlebih saat Habibie mengemukakan kesadaran bahwa pemerintahan yang dipimpinnya sebatas mengantarkan rakyat pada Pemilu 1999. Toh, dia sempat tergoda untuk menerbangkan pesawat kekuasaannya lebih lama lagi, sebelum akhirnya laporan pertanggungjawaban Bung Rudy “diterima dengan catatan” (dalam komunikasi politik berarti “ditolak”) oleh parlemen. Dalam pada itu, keputusannya menyangkut Timor Timur (yang berakibat lepasnya provinsi tersebut dari klaim RI) dinilai menyakiti hati kalangan tua militer.

It’s okay,” desis Habibie, ”die reinste freude is die schandenfreude.”

Habibie dikenang bukan karena kemenangan-kemenangan operasi militer ― yang didambakan oleh pemimpin egosentris dan pandir ― tapi karena kepandaiannya dalam menekankan pentingnya kebebasan berpendapat dan akal sehat di tengah konflik manusia, sebagai lawan dari kuasa brutal.

Pemilu 1999 menghasilkan PDIP yang mabuk kemenangan dan partai pecundang yang siap dengan konspirasi jahat. KH Abdurrahman Wahid yang baru saja menguap, didudukkan begitu saja di kursi RI-1. Rakyat menanti dengan harap-harap cemas.

Kekuasaan dibagi-bagi. Si merah dapat anu, si biru jadi anu, si kuning dapat anu, si hijau jadi anu. Mereka tidak peduli siapa yang memegang sapi, yang penting mereka bisa memerah susunya. Pada masa ini, orang-orang ambisius dan cenderung bejat keluyuran dari satu partai ke partai lain, mencari jabatan resmi sebagai penasihat atau ahli strategi. Banyak yang pintar omong, memukau para penguasa dengan rancangan konspirasi mereka. Kalau rancangan mereka sukses, mereka dapat pekerjaan. Kalau gagal, ya tidak apa-apa. Di masa reformasi, tak ada kesantunan, tak ada kebajikan. Yang ada hanya pembolak-balikan kesetiaan, pengkhianatan berbulu kebajikan. Sukar membedakan antara bajingan dan birokrat. Penampilan dan kelakuan mereka sama. Sama-sama kejam, penjilat, pengkhianat, licik.

Keputusan Gus Dur meniadakan Departemen Penerangan dan Departemen Sosial memicu keresahan. Konflik antarelit berlangsung gamblang, menyusul ucapan Sang Kiai ― “seperti taman kanak-kanak” ― kepada wakil-wakil rakyat yang terhormat di Senayan. Keputusan Gus Dur memecat dua menteri semakin memperuncing situasi.

Rakyat kian tak mengerti perilaku para pemimpinnya. Yang satu kasak-kusuk, yang lain jalan-jalan ke luar negeri. Isu skandal demi skandal diembuskan untuk menjatuhkan lawan, tak terkecuali skandal keuangan yang melibatkan taipan-taipan Cina. Cina? Bagai barongsai yang pincang terkena petasan Tahun Baru Imlek, harapan mereka surut bersama kemungkinan menghadapi kehilangan segala-galanya setelah 14 Mei 1998.

Gus Dur kehabisan uang receh sejak awal. Debutnya sebagai RI-1 laksana ― mengutip Chairil Anwar dalam puisinya ― “sekali berarti, sudah itu mati”.

Kalau boleh memilih, parlemen lebih senang. Sebab, sejujurnya parlemen tak menghendaki Megawati Soekarnoputri duduk di kursi RI-1 (jangan lupa itu). Namun, bagi pengikut setia “banteng mendengus”, inilah pesta kemenangan yang tertunda. Bagi mereka, Mama Mega mengemban mandat ilahiah, terlepas apakah orang lain senang atau tidak.

Begitulah. Pada awalnya, hubungan cinta rakyat dan Mama Mega, seperti hubungan cinta lain, melibatkan banyak khayalan dan harapan yang indah-indah. Satu-satunya mimpi buruk hanyalah Taufiq Kiemas (TK), suaminya, yang lasak dan calak. Sepak terjang TK yang suka foya-foya, mengundang semut-semut di tempat piknik. Kepemimpinan Mama Mega yang dimitoskan “diliputi roh kebesaran Bung Karno” menarik orang-orang baru ke lingkaran partai, seperti kalong-kalong menuju pohon mangga. Paralel dengan itu ― ironisnya ― orang-orang lama ke luar partai, menunggu kesempatan. Tapi di atas segalanya, sikap dia pasif ― tidak baik bagi seseorang yang menulis buku Bendera Sudah Saya Kibarkan!

Sejenak, di mata rakyat itu cuma faktor. Kini, para pejabat setiap hari gemetaran menyaksikan daftar kekayaannya dipampang di media massa. Wajah mereka senantiasa terancam (untunglah, jantung mereka tetap pada tempatnya). Meski begitu, suap dan korupsi tak berhenti. Mereka tetap membeli rumah di kawasan elit, punya mansion di luar negeri, mengawinkan anak dengan biaya miliaran rupiah, merayakan ulang tahun di hotel mentereng, menginvestasikan uang mereka melalui private banking dan sindikat-sindikat kriminal, serta terus bikin statement.

Sebagai reaksi terhadap aksi pejabat periode sebelumnya, mereka membalas dengan sama rakusnya. Jadi sulit memisahkan orang terhormat dari bejat, seperti susahnya memisahkan putih dari kuning telur yang sudah terkocok. Di mana-mana, penjualan saham ― baik perusahaan BUMN maupun swasta yang dikuasai BPPN ― selalu berakhir ribut. Ada orang di Senayan yang bicara nasionalisme ketika saham Indosat dijual ke negara tetangga. Tapi di Indonesia ada lebih banyak orang yang tidak meneteskan air mata untuk nasionalisme. Uang adalah segala-galanya. Bagi mereka, nasionalisme adalah kecongkakan dan prasangka, sesuatu ― seperti rasisme ― yang tak sanggup mereka tanggung.

Bagi Mama Mega sendiri, tumbuhnya politik multipartai di Jakarta belakangan ini mengharuskan dia menyuapi lebih banyak jenderal dan politisi. Bagi pemerintahan Mama Mega, gerakan antiKKN hanyalah penyakit kulit, sementara kaum jenderal dan politisi adalah penyakit jantung. Mereka termasuk warga negara paling rasional di saat mereka tenang. Tapi mereka benar-benar irasional dalam soal balas dendam.

Mama Mega samasekali tak merasa bersalah atas nasib ribuan TKI di kamp-kamp pengungsian di Nunukan, sekali pun pada saat hampir bersamaan Presiden Gloria Arroyo menjamah tenaga kerja Filipina yang mengenaskan di Bongao, Tawi-tawi. Bagi Mama Mega, itu “nasib buruk biasa” belaka. Kini, ribuan orang yang kehilangan pekerjaan ― menyusul merger antarperusahaan, hengkangnya perusahaan PMA, perusahaan yang dilikuidasi, atau gulung tikar dililit krisis ― bertambah banyak. Frustrasi mulai menghinggapi pikiran rakyat: jika saja Indonesia dilahirkan kembali dalam model Singapura, bagus; jika tidak, model pemerintahan Pak Harto pun tidak jelek. Orang-orang di lingkaran kekuasaan Mama Mega juga menikmati fantasi sebanyak orang lain, tapi mereka lebih suka bermimpi di ruang-ruang deposit bank.

Tidak ada yang salah atau dipersalahkan sebelum demo menentang kenaikan BBM dkk digelar. Yang ada sekarang, Mama Mega di atas kursi RI-1 mulai menghitung-hitung kembali sisa uang receh di sakunya. Di bagian belakang panggung, ada sekolompok orang berbulat niat untuk mengambil alih kekuasaan dengan bermodalkan kelicikan dan aroma uang. Dan, di lorong-lorong gelap penjuru kota dekat bangunan tua yang membisu, ada rakyat berdendang dangdut sambil berjoget, ”Cukup sekali aku merasa kegagalan cinta. Takkan terulang kedua kali di dalam hidupku. Oooh … ya nasib ya nasib, mengapa begini …”

Jakarta, 24 Januari 2003

January 18, 2003

Pengkhianatan yang Manis

ILLUSTRATED BY THOMAS KNARVIK
PADA sebuah episode dalam sastra klasik Cina, tersebutlah si licik T’sao T’sao tengah mengepung sebuah kota. Seorang perwira logistik datang kepadanya untuk meminta petunjuk.

“Tuan T’sao yang agung, persediaan makanan kita tinggal sedikit. Apa yang harus kita lakukan?”

“Kurangi jatah ransum serdadu,” perintah T’sao T’sao.

“Mmm … mereka pasti tidak terima,” kata si perwira logistik mengingatkan.

“Kerjakan saja. Nanti aku yang membereskannya,” T’sao T’sao meyakinkan.

Perintah dijalankan sesuai petunjuk. Saat para serdadu mengeluh, T’sao T’sao memanggil sang perwira logistik. Kata T’sao T’sao, ”Aku sudah tahu apa yang terjadi. Sekarang aku ingin meminjam milikmu untuk menenangkan mereka. Kuharap kau tidak keberatan. Kehidupan keluargamu kujamin.”

Beberapa algojo segera menyeret keluar si perwira yang tak berdaya dan memenggalnya, desss! Kepalanya dipancang di sebuah tiang dan dipertontonkan kepada seluruh serdadu. Di tiang itu pula dipasang papan bertuliskan: Perwira logistik Wang Hou dihukum karena mencuri persediaan makanan dan mengurangi jatah ransum pasukan.

Anda boleh saja bilang (itu) masa lampau adalah buku pelajaran para penguasa yang zalim dan masa depan adalah kitab suci orang bebas. Tapi percayalah, di masa sekarang pengkhianatan semacam itu lebih merupakan kelaziman tinimbang kekecualian (sekurangnya di mata para korbannya). Seluruh cerita tentang pengkhianatan sesungguhnya bermula dari perseteruan lama antara uang dan kekuasaan, dan dari pengorbanan oleh rezim-rezim yang mengatasnamakan kearifan surgawi untuk menyembunyikan korupsi duniawi.

Di kantor-kantor, cerita tentang pengkhianatan atasan terhadap bawahan merupakan cerita jamak yang berlangsung pada jam-jam makan siang. Bawahan sering dikorbankan atas kekalahan suatu tender, atas hujaman complain dari klien, atas kinerja buruk suatu bagian, atas kegagalan target penjualan, atas kesalahan proyeksi keuangan, atas segalanya yang telah diperintahkan atau disetujui atasan sebelumnya, bahkan atas sesuatu yang tidak dimengerti. Kalau pengkhianatan dilakukan oleh bawahan terhadap atasan disebut makar atau kudeta, lalu disebut apakah pengkhianatan yang dilakukan oleh atasan terhadap bawahan?

Pada level berbeda, pengkhianatan tidak menyebabkan banyak adrenalin mengaliri kebencian. Pengkhianatan jenis ini bisa terasa manis atau tidak seperti yang kita kira. Di sebuah negara kaya yang jadi miskin akibat salah urus seperti Indonesia, para penguasa biasa menista pengusaha lewat pernyataan yang menyudutkan di media massa. Kekayaan yang diperoleh susah-payah tetap menjadikan pengusaha incaran para menteri yang tamak, birokrat dan jenderal-jenderal maling. Para pengusaha ― karena alasan-alasan tertentu ― tidak membalas (kecuali mereka siap kehilangan kesempatan semacam release and discharge). Ini bukan soal politik. Apa bedanya dijarah oleh militer atau politisi? Setiap orang bicara tentang Indonesia sebagai satu bangsa, tanpa memahami maknanya. Satu-satunya kebangsaan adalah kepentingan kelompok. Satu-satunya paspor adalah uang.

Ada seorang sripanggung politik di Senayan yang tiba-tiba menyalib di tikungan, tempat dan saat ribuan massa berbaris menentang kebijakan pemerintah. Kata orang, ”Dia itu kan MPR, atasan pemerintah, pasti sudah tahu sebelum kebijakan pemerintah diputuskan. Kok, baru sekarang ikut berteriak?!” Seperti menonton pergelaran wayang kulit semalam suntuk, dia baru hadir hanya ketika babak goro-goro ― saat aksi kuartet punakawan: Semar, Gareng, Petruk, Bagong ― dimulai. Tapi bagi saya, dia setengah penonton, setengah pemain, setengah dalang, sehingga jenderal-jenderal pun deg-degan di hadapannya. Dia pandai melambungkan bola-bola ke udara, serta membiarkannya jatuh sendiri ke tanah. Dia gemar menyinggung sasaran, bukan menjangkaunya terlebih dahulu.

Pemerintah yang dipimpin oleh PDIP ― karena alasan-alasan tertentu pula ― tak membalas dengan cara yang sama. Mereka percaya, dalam politik juga berlaku Hukum Archimedes: jumlah desakan yang dilancarkan, senilai jumlah simpati yang akan didapat. Jadi, baik pihak penguasa maupun pihak oposan hanya saling mengepung dengan perasaan takut-takut seperti pegulat-pegulat pemula; masing-masing yakin bahwa pihak lain berencana menjatuhkannya. Bukankah ini pengkhianatan yang manis?

Jakarta, 17 Januari 2003

January 11, 2003

Menatap Bali dari Puing Reruntuhannya

ILLUSTRATED BY PETER EGLINGTON
BALI, Anda sudah maklum mengapa belakangan ini ia dibicarakan.

Ketika gedung WTC di New York runtuh 11 September 2001, kita tidak mampu mengukur trauma pascatragedi yang dialami bangsa Amerika. Kita hanya melihat potongan-potongan beritanya sambil mengunyah popcorn. Setahun kemudian, 12 Oktober 2002, ketika Paddy’s dan Sari Club di Legian-Kuta, Bali dibom, kita terhenyak. Apakah kita masih bisa makan popcorn? Bohong kalau saya katakan “tidak bisa”. Hanya kali ini berbeda. Sekarang, kitalah gambar-gambar dalam potret kepedihan sebuah tragedi (dan giliran bangsa lain makan enaknya popcorn).

Jujur saja, dalam batas-batas logika seperti itulah saya bertolak ke Bali pada 31 Desember silam. Logika ini sama, misalnya, ketika saya hendak berziarah ke Lubang Buaya. Atau, bahkan ketika saya hendak plesir ke Lapangan Tiananmen di jantung kota Beijing. Sungguh keterlaluan jika saya berfoto-foto di Lapangan Tiananmen dengan perasaan sukacita, sambil menggendong boneka panda. Lalu, saat kamera siap saya berseru, ”Cheers!”

Namun, logika akal tidak selalu sama dengan logika hati. Bandara Ngurah Rai siang itu sangat ramai, hampir menyerupai keramaian Terminal Kalideres pada Lebaran lalu. Dengan keramahannya yang sudah terkenal itu, dari pramugari sampai petugas di bandara mengesankan saya bahwa Tragedi Bali perkara kecil belaka. Ucapan diplomatis – seperti, ”Sari and Paddy’s were just buildings,” kata pemandu tur kepada turis asing, ”the spirit, the culture and the beauty of the island remain the same.” ― biasa saya dengar sejak di bandara. Atau ucapan seperti, ”Because we are Hindu, we Balinese blame ourselves for what happened. We think that we have done something wrong, perhaps because we allowed these dens of vice to operate openly.”

Toh, rasa curiga terhadap banyak hal yang dianggap “perkara kecil” ― hal yang hingga hari ini hendak dibereskan oleh Made Mangku Pastika dan tim ― itu masih tersisa dalam diri saya. Keramahan ini barangkali “kutukan” bagi sebuah pulau yang terlanjur diandalkan sebagai daerah tujuan wisata utama. Hari ini ia harus memperlihatkan “kewajarannya”, betapa pun kemarin babak belur.

Pemandangan yang sama diperlihatkan oleh para pendatang (banyak di antaranya sering kita lihat di layar kaca). Air muka mereka bening, sikap dipasang wajar, seperti tahu benar bagaimana seharusnya melakukan perjalanan wisata dan bersenang-senang. Tapi, mengapa harus Bali? (tiba-tiba saja pertanyaan itu melintas di pikiran saya) Tiga kali saya ke Bali, tak mudah juga menjawabnya. Saya pikir, hanya ada tiga kelompok orang yang datang ke Bali hari-hari ini: orang kaya, seniman, dan orang gila.

“Selameth dathang di Pulau Dewathe.”

Seorang lelaki yang entah dari mana muncul di belakang saya. Pakaiannya khas Bali, plus sekuntum bunga kamboja disisipkan di telinga kiri. Posturnya tergolong irit dibanding kebanyakan orang Bali yang pernah saya kenal. Senyumnya mengembang. Jabat tangannya mantap seperti seorang politikus. Budi bahasanya santun, sesantun namanya, Nyoman. Tampaknya anak istri saya cukup terhibur dengan aksen dan penampilan Nyoman di tengah lautan orang yang menanti jemputan.

Selama perjalanan menuju hotel, tak henti-hentinya Nyoman bercerita apa saja yang menurut dia perlu diceritakan. Bagai pemandu tur kawakan, Nyoman mengemban bakat besar terutama menyenangkan hati orang. Di Bali, bakat dan keramahan semacam ini tentu ada harganya, minimal berupa tips senilai segelas draught beer.

Nyoman terkesan hati-hati, lebih tepatnya enggan berpendapat tentang Tragedi Bali. Dia lebih antusias bercerita tentang Sangeh, Bedugul, Tenganan, Besakih, Klungkun, Bangli, Goa Lawah, atau legenda Danau Batur. Saya tak merasa bersalah menanyakan hal itu kepadanya. Sebaliknya, dalam hati saya membatin: roh keriangan wisata Bali sesungguhnya telah pergi bersama ratusan arwah korban pengeboman. Tak gampang mengembalikannya, bahkan seandainya otak pelaku pengeboman dihukum mati.

* * *

SAM Radja adalah seorang pelukis abstrak di Ubud yang tinggal di Renon, Denpasar. Anda bisa mengenal dia lewat situsnya di www.theabstractpainting.com. Sam memang tidak seharum nama perupa Nyoman Gunarsa atau Nyoman Nuarta. Tapi, bukan karena itu dia tidak punya kreativitas. Tahun 2000, namanya tercatat dalam Museum Rekor Indonesia (MURI). Ceritanya bermula di Hotel Hilton Nusa Dua. Pada tanggal 22 bulan 2 tahun 2000 pukul 22.22, dia melukis di atas 22 kanvas berukuran 2 x 2 (m), dengan menggunakan 22 warna cat minyak, 22 kuas, selama 22 jam 22 menit 22 detik non-stop. Demo dan pameran lukisannya ini diberi titel The 2222222222222222222222 (angka 2 ditulis sebanyak 22 karakter). “Gue pengen memperingati akan berakhirnya milenium kedua,” kata Sam kepada saya waktu itu.

Gagasan Sam seringkali konyol, liar, bahkan terkadang absurd bagi orang-orang seperti saya yang konon dipenuhi oleh pikiran-pikiran “orang sekolahan”. Tapi dengan absurditas itu Sam bisa melawat ke pelbagai belahan dunia. Pernah, saat merayakan ulang tahunnya yang ke 33, dia mengundang sejumlah pejabat pemerintah daerah Denpasar dan 85 pelacur di sebuah restoran. “Acara ulang tahun malam ini sebetulnya cuma basa-basi. Tapi saya serius mengundang mbak-mbak dan bapak-bapak ke sini untuk bertemu, untuk mengingat kembali bahwa di mata Tuhan kita adalah sama,” ucap Sam dalam sambutannya.

Debut Sam sebagai pelukis sebetulnya mengejutkan. Di Yogya, saat kami sama-sama menggelandang tahun 1990-an, dia lebih dikenal sebagai penyanyi pub dan klab malam. Aksinya di panggung sering membikin perempuan-perempuan kesengsem, apalagi saat dia melantunkan To Love Somebody dari Michael Bolton. Memang dulu beberapa kali saya melihat dia sedang melukis di kamar kostnya, tapi mengira sebatas hobi.

Pilihan menetap di Bali sejak 1998 merupakan keputusan terpenting yang mengubah masa depan Sam. Di Bali, atas nama seni budaya, semua bisa dijual. Ratna, istri merangkap manajernya, bisa membandrol sebuah lukisan Sam seharga 2.500 dolar AS. Laku? “Yaaa, ada aja yang laku,” ujar Sam.

Biasa melakukan transaksi dalam dolar, tidak membuat perasaan Sam tumpul terhadap lingkungan sekitar. Beberapa jam setelah bom meledak, Sam bergabung bersama tim relawan pencari jenazah korban. Di tengah hiruk-pikuk sirene ambulan, mobil pemadam kebakaran, dan mobil patroli polisi, Sam menyisir jalan dan atap bangunan di belakang Sari Club. Di sana dia mengumpulkan organ-organ tubuh seperti potongan jari, telinga, alat kelamin lelaki, serpihan kulit kepala dan rambut yang menempel di balik helm. Sesekali dia mengusir kawanan anjing yang seperti burung condor sedang berebut robekan daging.

Tak kurang dari 40 kantung plastik kresek yang berisi potongan jenazah dia kumpulkan untuk diserahkan ke RSU Sanglah di Denpasar. Enam jam “bekerja” membuat dia limbung. “Tiga hari gue nggak bisa makan. Baru makan satu suap, udah muntah,” kenang Sam.

* * *

SEKITAR pukul 16.00, Sam menjemput saya di Hotel Sheraton Nusa Indah, Nusa Dua. Usai berjanji kepada istri untuk tidak mabuk dan kembali sebelum makan malam, berdua kami bergegas ke luar hotel. Yesss!

Rencana melihat-lihat galeri Sam di Ubud terlebih dahulu berubah. Dibelokkannya mobil ke arah Kuta, ke tempat Tragedi Bali bermula.

Memasuki kawasan Kuta, Sam memarkir mobilnya di halaman sebuah restoran. Tak jauh dari kami berhenti, ada spanduk bertuliskan: “Bali means peace”, “We love Bali”, dan “We will start again”. Dari sini, kami berjalan kaki hingga ke ujung jalan sepanjang 2 km. Banyak keramaian saya temui di sini. Semuanya berlabel menyambut tahun baru 2003. Inilah satu ciri khas warisan zaman rinascimento atau renaissance yaitu antroposentris: manusia menjadi pusat perhatian. Manusia mulai berpikir secara baru, antara lain mengenai dirinya. Manusia menganggap dirinya sendiri tidak lagi sebagai viator mundi atau orang yang berziarah di dunia ini, melainkan faber mundi alias orang yang menciptakan dunianya. Manusia sendiri mulai dianggap sebagai pusat kenyataan.

Jalanan Legian-Kuta mengundang orang keluyuran. Tak perlu ada tujuan, karena selalu akan ada sesuatu yang menarik, yang indah dipandang, yang mengharukan, yang menggelikan. Menurut Sam, jalanan Legian-Kuta yang setiap hari dilalui pun dapat membawa kejutan, memperlihatkan sesuatu yang baru, yang aneh. Jarak Nusa Dua – Kuta yang dipisahkan hanya enam lampu merah, begitu terasa perbedaan atmosfirnya. Ada satu dua kafe di Kuta yang mewarisi spirit kafe dari kota asalnya, di tepi jalan raya Montparnasse, Paris. Dengan secangkir kopi, di situ kita dapat menghabiskan waktu berjam-jam untuk “mengubah dunia” atau sekadar ngobrol ngalor ngidul. Tapi di Nusa Dua yang banyak hotel berbintang lima menjulang, tidak. Di situ, Anda tidak boleh kentut.

Sam mencatat perubahan sikap masyarakat Bali pascatragedi. Terhadap warga penduduk yang bukan asli Bali, masyarakat setempat mengambil jarak, persisnya menaruh curiga dan dendam. Sam menyebut pemeluk salah satu agama yang oleh orang Bali jadi tidak disukai. Tapi orang Bali, lanjut Sam, untungnya bukan seperti orang Ambon yang terbukti mudah dibakar angkara murkanya dengan simbol-simbol agama.

Masyarakat Bali bukan cuma sedih, tapi juga terhina martabat kemanusiaannya. Sam melukiskan, ”Bagaimana seandainya periuk nasi elu ditendang, dicampakkan di rumah elu sendiri tanpa sebab-sebab yang elu sendiri nggak ngerti?”

Hingga hari ini setiap malam petugas yang dimobilisasi oleh Ketua RW melakukan sweeping dari rumah ke rumah di pelosok kampung-kampung. Warga pendatang yang ketahuan tidak memiliki KTP Bali, apa boleh buat, mesti angkat koper selekasnya. Sam tidak tahu efektivitas aksi tersebut. Tapi dia tahu, sekarang ini banyak warga Bali pendatang yang mengantungi “KTP kaget” alias KTP aspal (asli tapi palsu) di dalam dompetnya. KTP jenis ini bisa diperoleh peminat di Banyuwangi.

Kami berhenti persis di depan puing reruntuhan Sari Club, kurang lebih 50 m dari restoran Kopi Pot. Di situ ada sejumlah buket disertai ucapan belasungkawa, lilin, dan canang. Bau dupa menyergap hidung kami. Saya menatap ke puing bangunan yang porak-poranda.

Enam turis bule tampak bercakap-cakap, 3-4 m dari kami berdiri. Dua orang menunjuk-nunjuk ke arah puing, tiga orang lainnya asyik mengambil gambar dengan kamera digitalnya. Sam menghampiri mereka dan bertegur sapa beberapa saat. Tidak jelas apa yang dia ucapkan. Saya hanya mendengar kalimat pertama dan kalimat terakhir. Saya hanya mendengar Sam berkata sambil melambaikan tangan kepada mereka, ”See you pale! Tell your friends Bali is safe. Tell them to come back.”

Nusa Dua - Jakarta, 1 – 9 Januari 2003