December 30, 2002

Harga sebuah Keaslian

ILUSTRATED BY AGUS SUWAGE
CUTI tahun ini saya habiskan di Yogya. Bukan sebagai turis, tapi sebagai orang biasa yang pernah menjadi warga Yogya selama 12 tahun. Saya mengunjungi beberapa tempat yang dulu merupakan bagian dari keseharian, seperti warung gudeg Mbah Kromo di jalan Gejayan, rumah Bu Kasmidi di Mrican (kepada keduanya saya berutang budi), warung SGPC (sega pecel/nasi pecel) di tepi Selokan Mataram, dan teman-teman yang setia menjaga keluhuran budi bahasa Jawa di Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat.

Letih menatap sekujur kota Yogya yang hiruk-pikuk, naik becak saya ke Museum Affandi di jalan Adi Sucipto, di tepi Sungai Gajah Wong. Bukannya sok nyeni, saya memang sangat menikmati karya seni lebih dari sekadar relaksasi. Itu pertama. Alasan kedua, percaya atau tidak (percayalah), tak sampai sehari setelah saya berkunjung ke sini, Affandi mengembuskan nafasnya yang terakhir. Saya lupa tanggalnya, tapi suatu hari pada paruh kedua tahun 1990, saya sempat menemui Sang Maestro yang terbaring di tempat tidur. Tidak ada siapa-siapa di kamar selain istrinya, Maryati.

Dia tak mengenal saya, itu tidak penting, toh saya juga tidak kenal dia kecuali karya-karyanya. Jadi, waktu itu saya hanya menyapa, ”Pak, semoga cepat sembuh, biar bisa melukis lagi.” Tak ada reaksi apa-apa kecuali tatapannya yang nanar. Mungkin saja dia ingin menyesali wajah saya yang mirip corak lukisannya: abstrak.

Dua alasan itulah yang membawa saya ke Museum Affandi, awal November silam. Di museum ini berdiri tiga galeri, selain rumah tinggal keluarga Affandi. Dari sekitar 1.000 lukisan yang tersimpan di sini, 300-an di antaranya merupakan karya Affandi. Di galeri I terpajang karya retrospektif sejak Affandi mengawali karirnya. Karena dianggap bernilai sejarah, lukisan-lukisan itu tidak dijual. Di galeri II, berkumpul karya teman-teman Affandi seperti Popo Iskandar, Hendra, Basuki Abdullah, Fajar Sidik, dan Rusli. Di galeri III, dipertunjukkan lukisan keluarga Affandi antara lain karya Kartika Affandi, anaknya.

Sebelum memasuki pintu galeri I, seorang pak tua menyapa saya, minta geretan api. Tubuhnya kurus seperti kurang gizi. Wajahnya seperti pelukis Joko Pekik, tapi lebih mirip Edmund Husserl, seorang filsuf Jerman yang meninggal tahun 1938 di Freiburg.

Tanpa berkata-kata, pak tua itu memberi isyarat dengan kepalanya. Dia masuk, saya mengikuti di belakangnya. Persis di depan kanvas besar dia berhenti. Di permukaan kanvas terlukiskan bentuk bulatan yang menyala dengan sapuan cat tebal. Sepertinya Affandi ingin melukis matahari. Lukisan itu tak bisa disebut masterpiece, tapi sungguh-sungguh karya Affandi. Jadi, tak dapat dianggap sepele.

Pak tua itu manggut-manggut, sambil mengisap kreteknya. Saya bergerak menuruti langkahnya menuju karya Affandi yang lain. Sebuah lukisan yang menggambarkan potret diri Affandi. Saya sangat menyukai satu ini. Tampak sekali tarikan garis di situ merefleksikan spirit pelukisnya yang garang.

Di bangku tengah, pak tua duduk, menghadap karya Affandi lainnya. Sikapnya acuh tak acuh terhadap karya abadi bermutu tinggi di galeri ini. Sambil berdehem saya duduk di sisinya.

“Anda tahu, tidak ada satu pun lagi sapuan asli dari Affandi di kanvas itu,” ujar dia membuka percakapan.

“Oya?” tanya saya bergairah.

Pak tua menggelengkan kepalanya.

“Kanvas ini sudah begitu sering ditambal, hingga Affandi kalau lewat sini sekarang akan bilang: ’hmmm, aku pernah membuat sesuatu mirip ini.’”

Saya melihat ke arah lukisan Affandi, seolah ingin mencari kepastian. Dahi saya berkerut. Saya hanya mengangguk netral.

“Dan, Anda tahu apa yang benar-benar aneh?” lanjut pak tua, ”kenapa orang datang jauh-jauh untuk melihat lukisan ini?”

Saya mengangkat bahu, tak mau terlibat.

Pak tua menoleh ke arah saya. “Karena lukisan ini asli Affandi. Kalau lukisan ini, eh, katakanlah, suatu gambar pemandangan kota yang membosankan, tidak akan ada orang datang. Nilai lukisan ini tinggi karena ia asli. Setidaknya yang disangka orang. Tapi sekarang, perhatikan. Misalnya … saya mencuri salah satu lukisan itu.”

Saya terkesiap, menanti ucapan pak tua lebih lanjut.

“Saya bilang misalkan,” ucap dia,”tentu saya tidak berani. Di sana-sini ada petugas. Lagipula lukisannya terlalu besar. Sukar sekali mengeluarkannya dari gedung ini. Tapi, andaikan berhasil. Saya hipnotis petugas itu dan hup … saya bawa pulang ke rumah. Tahu, apa yang akan terjadi?”

Saya menggeleng, tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi.

“Saya akan menjualnya, kan? Tapi setiap saya menawarkan kepada para kolektor, pasti mereka bilang: ’ya ya ya, lukisan itu karya Affandi yang dicuri dari Museum Affandi.’ Berani bertaruh, tidak akan ada orang yang berani memiliki. Tapi saya bisa mencari uang banyak, seandainya saya meyakinkan kolektor, bahwa lukisan itu suatu copy atas yang asli. Orang-orang akan memuji: ’bagus, saya beli.’ Maka, terasa olehmu keadaan dunia ini, anak muda?”

Lagi-lagi, saya menggeleng. Tapi kali ini disertai perasaan dungu teramat sangat.

“Begini. Di dalam ruangan ini lukisan itu hanya berharga kalau ia benar-benar asli. Di luar gedung ini ia hanya berharga kalau ia tidak asli.”

Kali ini saya mengangguk-angguk seperti burung perkutut di Pasar Burung Ngasem. Kami lantas berkeliling sebentar, sebelum akhirnya pak tua menghilang di balik kerumunan orang. Dia tak mengenal saya, itu tidak penting, toh saya juga tidak kenal dia kecuali kata-katanya yang berharga.

Jakarta, 29 Desember 2002

December 25, 2002

Yesus-yesusan

ILLUSTRATED BY THOMAS NAST [1840-1902]
JANGAN pernah remehkan pertanyaan dari anak-anak. Apalagi tentang konsep keimanan. Pertanyaan yang terlihat bodoh merupakan pertanyaan serius bagi anak. Belum lama ini, pada hari Minggu pagi yang berawan, saya sedang membaca suratkabar untuk mengikuti pergolakan dunia. Datang anak lelaki saya yang berumur empat tahun menghampiri.

“Pa, Natal itu ulang tahunnya Sinterklas, ya?” tanya dia sambil membanggakan kado Natal yang diterimanya pada perayaan menyambut kelahiran Yesus di sekolah kemarin. Pada perayaan itu, ada Sinterklas yang membagikan hadiah kepada setiap murid nol kecil.

“Siapa yang bilang seperti itu?” (Ketahuilah, ini cuma siasat mengulur waktu sambil mencari-cari jawaban yang memuaskan).

“Iya, ya?” (Wah wah wah, dari mana dia belajar menginterogasi?)

“Eeeh … Hari Natal itu hari kelahiran Yesus. Setiap 25 Desember, kita merayakan kelahiran bayi Yesus yang membawa kabar baik. Sinterklas yang suka bilang ho ho ho ho, itu orang baik yang suka membagi-bagi hadiah pada waktu Hari Natal, buat anak yang baik.”

“Yesus baik, nggak?”

“Baik, dong. Makanya kita selalu berdoa kepada Yesus.”


“Yesus sama Sinterklas, baik mana?” (Kenapa ya anak-anak selalu berharap adu hebat antara Batman dan Ksatria Baja Hitam?)

Itu belum seberapa. Kakaknya (juga lelaki) yang lebih tua dua tahun, acapkali mengejutkan. Dari kalimat yang dilontarkannya, memaksa saya mawas diri. Pernah dia bertanya, ”Kenapa kita harus berdoa kalau Tuhan sudah tahu apa yang mau kita doakan?”

Menjawab pertanyaan ‘mematikan’ semacam itu, samasekali berbeda dengan menjawab pertanyaan dari mana datangnya adik bayi. Para orangtua bisa mengarang cerita apa saja untuk menjawab asal-usul jabang bayi. Dari kisah si burung bangau pengirim bayi, hingga analogi kumbang dan kembang. Atau, berkelit dengan jawaban, ”Nantilah nak, kalau kamu sudah besar, kamu akan mengerti.”

Mengajarkan konsep keimanan kepada anak – sebagai salah satu tanggungjawab terbesar orangtua – berarti memperkenalkan sosok baru dalam kehidupannya yang disebut Allah. Melebihi pengetahuan tentang siapa Allah dan cara berdoa, anak berhak mengetahui segala sesuatu yang kita sebut iman.

* * *

INILAH preseden historis yang ditanggung umat Nasrani kontemporer sedunia setiap Natal. Para orangtua dari Yerusalem sampai ke Tel Aviv, dari New York sampai ke Milan, dari Praha sampai ke Cape Town, dari Dusun Brosot di kaki Gunung Merbabu sampai ke Melbourne, selalu menghadapi gagap iman dari anak-anak mereka. Mereka baru mengenal Yesus dalam taraf yesus-yesusan.

Ketika saya mulai meronta dalam kebodohan, Sinterklas dinanti-nanti penuh sukacita. Anak-anak yang biasanya bengal, mendadak luruh beberapa hari menjelang Natal. Mereka sangat takut pada si Piet Hitam, tokoh pendamping Sinterklas yang digambarkan menggenggam sapu lidi. Entah siapa saja dan berapa anak yang telah dihukum, saya tidak tahu. Yang jelas, mendengar namanya anak-anak sudah gentar waktu itu.

Malam menjelang Natal, sejak sore hari saya mempersiapkan kaus kaki dan kobokan. Ke dalam kaus kaki, saya masukkan sejumput rumput. Ke dalam kobokan, saya tuangkan air. Keduanya – masing-masing untuk makan dan minum rusa Sinterklas – saya letakkan di bawah Pohon Natal. Semuanya saya lakukan dengan satu harapan: Sinterklas mampir ke rumah dan – ini yang penting – meninggalkan hadiah Natal.

Saat Natal tiba keesokan harinya, selalu saya bangun lebih pagi daripada orangtua. Menahan rasa kebelet pipis, saya bergegas menuju ruang tamu, tempat Pohon Natal berada. Aha! Ada sebuah kotak berbungkus kertas kado di situ. Ada coretan spidol bertuliskan nama saya di atasnya. Rasa-rasanya, tulisan itu tidak asing buat saya. Tapi, siapa peduli! Hei, lihat! Rumput itu tercecer. Air di kobokan pun berkurang.

Meski belakangan cerita Sinterklas atau Santa Claus itu tipuan mentah-mentah, samasekali saya tak menaruh dendam kepada kedua orangtua. Seperti belajar menulis, beriman juga melalui proses alfabetis. Seiring dengan usianya, anak-anak belajar grammar dalam beragama. Di dalam proses tersebut, mereka membutuhkan sekadar medium nilai universal tentang segi-segi kehidupan. Sungguh manis mengenang Santa Claus pernah ada di dalam relung hati saya.

Apakah anak-anak sekarang merasakan kenangan yang sama kelak? Mungkin tidak. Santa Claus sudah berubah sekarang. Buka mata lebar-lebar. Dia sekarang sudah bekerja untuk sekolah-sekolah. Pada saat yang sama, dia juga bekerja untuk department store dan mal-mal. Malam Natal bukan malam yang menyibukkan lagi bagi Santa Claus, yang dulu terbang dengan kereta rusa (salah satunya bernama Rudolph) dari rumah ke rumah, yang menyelinap dari cerobong asap, dan yang meletakkan hadiah Natal di bawah Pohon Natal.

Jakarta, 24 Desember 2002

December 19, 2002

Rusa di Monas

ILLUSTRATED BY ANONYMOUS
MEMBAYANGKAN kawanan rusa di kawasan Monas, hmmm … boleh juga. Maunya tentu seperti pemandangan di Istana Bogor. Ada pepohonan yang rindang, rumput yang tebal, kolam air mancur, ada pula bangku kayu. Bisa jadi tempat alternatif rendevouz, selain kafe yang itu-itu juga pengunjungnya. Boleh juga dibikin tempat bermain anak-anak, seperti ayunan, prosotan, jungkit-jungkit. Ini akan menjadi selling point baru bagi Monas yang selama ini image-nya sudah jelek. Saya tidak tahu sudah berapa lama, tapi sejak awal 1980-an ada istilah prokem gresimon (plesetan dari nama penyanyi Grace Simon). Tidak lain tidak bukan kependekan dari “grepe silang monas” alias pereks silang monas.

Meski terkesan improvisasi, ide Pemprov DKI ini sebetulnya cukup segar. Alih-alih memagari kawasan seluas tiga hektar (sepertiganya luas Pulau Sipadan yang sudah sah dimiliki Malaysia), berkembang menjadi memelihara binatang. Jika semula demi mengamankan akses masuk terhadap pencoleng, pedagang kakilima dan grepe, maka sekarang pagar setinggi tiga meter itu jadi kerangkeng yang terbesar di pusat kota.

Apa betul ide itu baik? Bukan baik bagi Megawati, warga Jakarta, turis, apalagi Sutiyoso. Atas nama perikebinatangan, apakah ide itu baik bagi rusa yang akan menempati kurungan barunya di kawasan Monas? Jangan-jangan para rusa itu malah stres. Siapa pun tahu, dibanding Istana Bogor yang lengang, kawasan Monas selalu bising oleh desing kendaraan bermotor. Belum lagi yel-yel pendemo. Jangan lupa pepatah “seperti rusa masuk kampung”.

Apakah tidak sebaiknya burung merpati? Ditambah burung merak juga boleh. Tak usah banyak-banyak, 1.000 – 2.000 ekor saja cukup. Tak perlu khawatir ia akan kabur dari kawasan Monas. Banyak orang bisa menyetel sistem navigasi merpati. Saya punya beberapa teman yang bisa melatih ratusan merpati supaya patuh. Lagipula, masih ingat kan pepatah “sejauh-jauh merpati terbang, ia pasti pulang ke sarangnya”?

Saya membayangkan, gemuruh kepak sayap kawanan merpati pasti lebih enak didengar ketimbang deru bajaj. Kita juga bisa memberi makan merpati dengan biji-bijian, remah-remah roti sambil membayangkan duduk di taman kota di Budapest, Roma atau Moskow. Sambil duduk di bawah pohon, kita bisa menikmati kawanan merak mengembangkan bulu ekornya pertanda sedang birahi. Di situ pula kita bisa memperbincangkan artikel mutakhir Noam Chomsky, karya sastra Leo Tolstoy atau riwayat Amrozy. Anda tahu, Taman Ismail Marzuki sudah pengap sekarang.

Kalau keberatan dengan merpati dan merak, siapa setuju monyet? Jika tidak setuju, apa salahnya sang monyet sampai Anda begitu membencinya? Menurut hikayat, ia mewarisi banyak sifat manusia (atau manusia yang mewarisi sifat-sifatnya). Ini akan menjadi terapi psikis efektif di akhir pekan bagi mereka yang menyebut dirinya politikus dan pebisnis (tapi tak lebih dari “pedagang sapi” dan pencari rente yang korup). Tak perlu buru-buru menjebloskan para koruptor ke dalam penjara atau ke Nusakambangan seperti Bob Hasan dan Tommy Soeharto. Kawasan Monas bisa jadi tempat singgah yang berkesan sepanjang hayat mereka.

Tapi, kalau memang maunya mengamankan kawasan Monas, kenapa tidak memelihara macan tutul saja? Dijamin, bukan cuma pencoleng dan teman-temannya yang gentar, tapi para hidung belang pun mikir.

Jakarta, 18 Desember 2002