March 3, 2003

Wajah Paman Sam

ILLUSTRATED BY ROBBIE CONAL
TAMATNYA Perang Dingin telah mengakhiri zaman pertikaian ideologis. Namun, ia tidak menyudahi sejarah imperialisme. Satu perangkat penaklukan diganti dengan perangkat penaklukan berikutnya. Dan, sejalan dengan era kesejagatan, imperialisme bukanlah teladan masa depan, tapi contoh masa lalu.

Tahun 1895, Jepang mulai mengasah kukunya sebagai kekuatan imperialis baru dengan menyabot Taiwan dari Cina. Tahun 1905, ia memperoleh pampasan perang berupa separuh Semenanjung Sakhalin di Siberia, Semenanjung Liaotung, dan sebagian besar ekonomi Rusia di Manchuria. Tahun 1910, Jepang menganeksasi Korea. Ia juga menggasak banyak perusahaan Jerman di pesisir Pasifik dan Shantung selama Perang Dunia I. Tahun 1920, dunia menandai Jepang sebagai kekuatan imperialis besar di Asia Utara.

Bagi Jepang, penaklukan wajib hukumnya, mengingat kebutuhan ekonomi Tokyo sedang tumbuh waktu itu. Pertumbuhan industri yang melampaui potensi pertanian, membutuhkan barang-barang mentah. Di benak sebagian orang Jepang, kebutuhan-kebutuhan itu bercampur dengan hasrat penaklukan, dominasi, dan (boleh jadi) pembalasan. Penaklukan wilayah utama tersebut tak jauh berbeda dengan operasi para bandit umumnya. Terkadang penaklukan di depan mata terjadi begitu saja, tanpa sebab-sebab yang jelas.

Saat dunia memasuki bagian pertama abad ke 20, rangsangan imperialisme terkait dengan ditemukannya sumber minyak bumi di Arab Saudi, Bahrain, dan Kuwait. Bentangan wilayah antara Maroko dan Irak – terletak di tepi Laut Tengah yang menghubungkan benua Asia, Afrika, dan Eropa – merupakan sumber penghasil minyak yang tiada tara. Sumber-sumber minyak tadi menguatkan nilai strategis dari aspek siasat perang, setelah raja-raja setempat menjadi kaya raya karenanya.

Ketika Perang Dunia I selesai, Prancis memperoleh mandat kekuasaan di Suriah dan Lebanon, hingga menjelang akhir Perang Dunia II. Sedangkan wilayah Palestina diserahkan ke tangan Inggris. Mandat ini berakhir tatkala Israel dimaklumatkan sebagai suatu negara pada 1948, dengan mengabaikan kebencian sebagian besar pemimpin Arab dan syekh-syekh Jazirah Arab. Nama Transyordania sayup-sayup terdengar sebagai mandat Inggris, setelah negeri tersebut menjadi suatu kerajaan pada 1846. Abdullah – seorang putera dari Syarif Husein dari Hedjaz dan saudara dari Faisal – diangkat sebagai raja. Untuk sementara Faisal menjadi raja di Suriah, sampai diusir oleh Prancis dari sana. Tahun 1927, Inggris melantik dirinya sebagai raja di Irak. Di antara negeri yang dijadikan daerah mandat oleh Liga Bangsa Bangsa, Lebanon yang pertama kali memproklamasikan dirinya sebagai republik pada 1941. Irak? Irak memang tak dapat menandingi Suriah dalam hal khazanah kebudayaan, namun Irak merupakan kerajaan Arab pertama yang melepaskan diri dari cengkeraman (mandat) asing. Kemerdekaan Irak diproklamasikan pada 1930 dan mandat atasnya berakhir pada 1932. Itu pun setelah tercapai perjanjian dengan Inggris, yang menjamin pengaruh Inggris di Irak (perjanjian serupa juga diteken dengan Mesir tahun 1936) selama 25 tahun. Tapi tahun 1948, perjanjian tersebut sudah tak ditoleh lagi.

Imperialisme selama Perang Dunia I mengakibatkan negeri-negeri Arab sebelah timur terpecah belah, menciptakan ethnonationalism (nasionalisme yang bercorak etnis lokal) Arab. Perlawanan terhadap imperialisme Eropa di negeri Arab bukannya tidak ada. Cita-cita menuju Pan-Arabisme – mempersatukan segala bangsa yang berbahasa Arab, bukan persatuan dunia Islam – jatuh bangun dipermainkan oleh berbagai kepentingan. Bahkan usai Perang Dunia II – saat ancaman zionisme kian terasa oleh bangsa-bangsa Arab – usaha mewujudkan cita-cita tersebut bagai memahat awan. Baru pada Maret 1945 di Kairo, terbentuklah Liga Arab yang beranggotakan Mesir, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Irak, Yaman, Lebanon, Suriah, Libya, dan Yordania. Meski demikian, dalam setiap urusan genting (seperti upaya mencegah Perang Teluk) Liga Arab selalu menghasilkan resolusi jalan buntu.

Peristiwa periode Perang Dunia I dan II, diikuti robohnya Uni Soviet, memaksa Amerika Serikat tampil ke muka sebagai sebuah negara yang paling besar kekuasaannya. “… kaya, berpengaruh, dan menurut standar siapa pun sangat berhasil,” puji The Economist, majalah bergengsi dari Inggris. Bisa dimengerti, jika AS mesti pandai-pandai menyesuaikan diri dengan kemauan bangsa-bangsa lain saat berurusan. Di tengah kesadaran seperti itu, AS telah lama memandang dirinya sebagai tempat suaka bin merdeka bagi orang-orang yang tertindas dan dianiaya – dengan demikian telah menghasilkan hal-hal yang begitu baik bagi dirinya dan dunia – sehingga jika ada negeri lain yang tak bisa melihat kebaikan ini, akan mengguncang jiwa Amerika. Di mata AS, masa depan perdamaian dunia bergantung pada kapasitas imajinasi bangsa lain memahami e pluribus unum (satu milik semua). Tak heran, jika dalam hampir setiap pergolakan domestik di suatu negeri, selalu ada orang Amerika di baliknya (yang melakukan pekerjaan sebenarnya).

Orang Amerika mau melakukan apa saja demi memelihara impian dan kebaikan mereka. Tapi, hanya Tuhan yang tahu betapa buruknya bangsa ini gagal dalam menggapai cita-citanya; betapa menyedihkan tafsiran-tafsiran mereka dikuasai oleh prasangka-prasangka buruk; oleh obsesi-obsesi tentang patriotisme yang membutakan terhadap masa depan perdamaian dunia. Mereka dibelenggu oleh pengalaman mereka sendiri, diombang-ambingkan ke sana ke mari – sama seperti semua orang fana berdosa lainnya – oleh sikap berat sebelah, dogma, prasangka, ketakutan sekaligus pengharapan.

Pada tahun sesudah kemenangan Perang Teluk jilid I, etos “Kita adalah nomor Satu” lahir kembali di AS. Presiden George Bush berseru mantap, ”Kita adalah pemimpin dunia yang tidak diragukan lagi.” “Masih tetap nomor satu!” begitulah tulis The New York Times kala itu. Manakala pasukan AS kembali dari Timur Tengah, bangsa ini diliputi perasaan bangga secara berlebihan, hingga mengalihkan diri secara sadar (mungkin juga tidak) dari keruwetan urusan dalam negeri. Perang itu melenakan sesaat dari soal merosotnya hubungan AS dengan Jepang, Prancis, Jerman dan negara-negara industri maju lainnya.

Di sebuah negara, tempat para penguasa dan pengusaha bisa duduk semeja pada pagi hari, ketamakan memang mudah dirancukan artinya dengan patriotisme. Tambahkanlah dengan dosis kekuatan militer yang mencolok, hasilnya niscaya menohok. Untuk tujuan patriotisme, AS kini menerima Inggris, Australia, sebagai cikal bakal bersatunya energi almasih.

Pada tahun menyongsong Perang Teluk jilid II, AS mencampuradukkan unsur-unsur patriotisme, kekuatan militer – ke dalam satu loyang etos “Kita adalah nomor Satu” – dengan kecerdasan visioner dan wahyu kenabian. Perang Teluk jilid II merupakan sebuah seruan untuk bersatu kembali melawan satu kekuatan yang tak tertahankan. Maka, jika sebelumnya Kuwait sudah tahu cara berterima kasih kepada AS saat Perang Teluk jilid I, kelak dunia dibuat menyesal atas ketidakberpihakannya pada AS saat Perang Teluk jilid II. Misi bangsa ini, sebagaimana umumnya bangsa Eropa, memenuhi keinginan “Tuhan yang memihak”: Gesta Dei per Francos untuk bangsa Prancis; Gott mit uns untuk bangsa Jerman; In God we trust, umpatan yang tertera pada setiap lembaran dolar, tuhan yang maha kuasa monoteisme uang dan pasar (menurut Roger Garaudy).

Eropa memang sumber kejahatan imperialisme, bukan Amerika (oya, tentu saja). Kejahatan-kejahatan Eropa terhadap bangsa-bangsa kecil di luar hukum geopolitik (Stalinisme, Hitlerisme, dan hal lain seperti ini) sudah terkenal. Tapi kejahatan-kejahatan itu tidak mengubah secuil fakta sejarah lainnya, bahwa Eropa merupakan tempat lahir Amerika; bahwa Amerika merupakan suatu perluasan peradaban Eropa; bahwa sekitar 80 persen orang-orang Amerika adalah keturunan Eropa. Jadi, apakah itu Eropa atau Amerika sama saja. Jika Eropa adalah contoh imperialis di masa lalu, Amerika adalah contoh imperialis di masa sekarang.

AS sebagai penguasa sementara dunia, kini sedang bersekongkol untuk merampas minyak bumi dari Timur Tengah yang merupakan syaraf pertumbuhan Dunia Barat. Bagi mereka, tidak penting sistem apa yang akan diberlakukan supaya dapat menyelamatkan minyak Timur Tengah. Yang penting, minyak tersebut terus bisa diperoleh. Untuk memenuhi kebutuhannya, hukum-hukum internasional dan perjanjian damai direkennya sebagai kliping gombal. Sementara itu, Israel telah melancarkan program disintegrasi terhadap seluruh negara Timur Tengah.

Jakarta, 7 Februari 2003

March 1, 2003

Tao

ILLUSTRATED BY SIMON NG
IMLEK 2554 tahun 2003 jatuh pada 1 Februari. Dibandingkan tahun baru Masehi (Romawi), pergantian tahun baru Cina sarat simbol-simbol yang dibungkus dengan mitologi tentang rujukan hidup (kita menyederhanakannya sebagai ramalan). Sahibul hikayat, rujukan ini aslinya berbentuk epigram, menggunakan kuas bulu tupai dan tinta di atas kulit bambu tipis, huruf-hurufnya ditulis turun dari atas ke bawah. Kulit-kulit bambu itu lantas diikat dengan benang sutra untuk membuatnya jadi semacam buku (kita menyebutnya primbon).

Orang Cina percaya (karena mitos dibuat untuk dipercaya, bukan untuk dipertanyakan), setiap pergantian tahun membawa sifat dan pesan yang berbeda. Sifat dan pesan tersebut perlu dikenali agar manusia – yang memikul takdirnya – bisa menghindari kekeliruan sama di masa lalu dan mengantisipasi malapetaka di masa depan. Meski hanya dimengerti samar-samar, demi tradisi, anak-anak keturunan orang Cina sekarang tetap loyal memeluk feng shui dan guanxi dalam kehidupan mereka.

Di lain pihak, nasib seringkali menjadi alasan untuk mengatakan ketidakpastian suatu keadaan. Ketika kita mengatakan bahwa seseorang tertimpa nasib buruk, kita seolah meringankan orang tersebut dari tanggung jawabnya atas apa yang terjadi. Sebaliknya, ketika mengatakan bahwa seseorang bernasib baik, kita mengabaikan peran orang tersebut dalam usahanya mencapai prestasi. Bagaimana kita bisa begitu yakin? Apakah ini masalah takdir atau pilihan yang menentukan hasilnya?

Apa pun namanya, itu sekadar ikhtiar manusia berontak dari keterbatasan mengatasi kerumitan hidup dan misteri alam. Dalam konteks tadi, ekonom dan ahli nujum sebetulnya bekerja untuk tujuan yang sama. Yakni, memberi rujukan kepada kita tentang bagaimana sebaiknya bertindak bijaksana. Hanya saja, pisau analisis keduanya berbeda. Yang satu memakai pisau analisis ekonomi dengan dalil statistik, yang lain menggunakan pisau analisis perbintangan (astrologi atau cabang ilmu astronomi yang mempelajari hubungan antara pergerakan bintang dan perilaku alam/manusia) dengan dalil “rencana semesta”. Pemanfaatan rujukan dari ilmuwan dan peramal, sebangun dengan dokter dan penyembuh alternatif. Dewasa ini, keduanya diakui sama-sama berjasa.

Bagi pencari kearifan ala Tao yang berarti Jalan, ketidakpastian dunia – dengan segala manusia yang memburu kebahagiaan – merupakan sumber eksplorasi yang sangat menarik. Betapa mungkin bahwa semakin banyak tahu seseorang, semakin banyak ilmu seseorang, semakin kaya seseorang, semakin berkuasa seseorang, ternyata tidak juga membuat orang itu makin mengerti.

Ada pepatah Cina kuno: macan siap menerkam, naga tersembunyi. Maksudnya, bahwa segala sesuatu tidaklah seperti kelihatannya. Macan merupakan binatang nyata yang memang ada. Naga, binatang dalam mitologi Cina, imajinasi manusia tentang suatu makhluk yang bisa melindungi tapi juga bisa mencelakakan. Oleh sebab itu, jangan lihat macannya; cari naganya. Naga apa yang tersembunyi di balik macan yang siap menerkam? Naga baik atau naga jahat? (tahan terus kebingungan Anda sampai selesai membaca habis).

Pernah nonton film Crouching Tiger, Hidden Dragon? (saya menontonnya empat kali biar ngeh). Barangkali karena juri menontonnya hanya sekali, sehingga karya sutradara berbakat Ang Lee ini harus mengalah dari The Gladiator (Ridley Scott, 2000) sebagai film terbaik versi Academy Award alias Oscar tahun 2001. Beberapa kritikus menyebut juri masih menjaga jarak terhadap film-film Asia, baik karena alasan fiskal maupun rasial.

Crouching Tiger, Hidden Dragon mengadaptasi novel empat jilid karya Wu Du yang terbit pada awal abad ke 20, di penghujung Dinasti Tsing. Semula, saya mengira Crouching tak lebih dari film-film silat Cina yang kita kenal umumnya, di mana ketika kita merangkak ke luar dari gedung bioskop bagaikan pendekar yang baru turun gunung siap mengamalkan ilmu. Ciaaat! Saya mulai sadar film ini lebih serius ketimbang hiburan aksi laga, ketika dialog, adegan seni bela diri dan pemandangan alam yang panoramik, diramu betul-betul estetik. Tapi apa gunanya, ketika kesadaran itu muncul menjelang film berakhir? Di tengah pujian orang-orang bahwa film ini keren abis, diam-diam, saya merayap ke gedung bioskop lagi keesokan harinya. Mulai jelas, meski belum begitu terang. Yang keempat, saya siap mempresentasikan beberapa kalimat kunci.

Isu sentral Crouching bertumpu pada sebuah pedang pusaka bernama Qingming yang berarti Takdir Hijau. Sebagaimana cerita yang dilandasi ajaran Tao, pedang berusia 400 tahun ini sebetulnya simbol dari tujuan hidup manusia. Sedangkan ilmu silat merepresentasikan medium yang ditempuh oleh manusia untuk menjadi bijak.

Dikisahkan, sebelum menikahi Yu Shu Lien (diperani oleh Michelle Yeoh), Li Mu Bai (Chow Yun-Fat) menyerahkan pedang kepada Tuan Te (Lung Sihung). Ini juga mempertegas keinginannya untuk mundur dari dunia persilatan yang penuh kekerasan dan dendam. Simak kata Li tentang pedang itu, ”Ia tetap bersih, karena tak pernah mengotori dirinya dengan darah.” Artinya, sikap hidup pemegang pedang sangat menentukan apakah pedang itu hanya sebatas benda, atau mewakili tujuan yang lebih mulia. Namun, meski sudah diserahkan, pedang ini terus menjadi pusaran perkara yang menyeret Li kembali ke pentas persilatan dan bahkan menemui ajal.

Pedang itu dicuri oleh Jen (Zhang Zi Yi), seorang perempuan muda yang tinggi ilmu silatnya tapi labil. Saat Jen sadar ilmunya melampaui ilmu gurunya, Rubah Mata Hijau (Cheng Pei Pei), dia justru menjadi takut. Kata dia, ”Aku tak melihat batas langit dan bumi. Tak tahu harus ke mana dan ikut siapa.” Ini menyiratkan, bahwa jika seseorang telah sampai pada puncak prestasinya (pencapaian ilmu, kekayaan, kekuasaan yang disimbolkan dengan “macan yang siap menerkam”) – yang diyakini sebagai kebahagiaan – masih akan menemui kegelisahan. Tanpa sadar, “naga tersembunyi” (baca: akhlak) tengah mengintai.

Rubah Mata Hijau digambarkan sebagai perempuan pendekar yang punya prinsip kebijakan berbeda dengan Li. Kata dia kepada Jen, muridnya, ”Mari kita hidup bebas. Siapa saja yang menghalangi, kita bunuh. Bila kau tak memberiku jalan hidup, kau pun harus mati.” Jelas ini mewakili persaingan bebas yang kejam, tidak beradab, sesuatu yang tidak asing dalam kehidupan sekarang.

Maka kata Jen, ”Meski mengenal huruf, kau tetap takkan mengerti.” Ini sindiran halus, bahwa keangkuhan seringkali merasuki seseorang yang sudah pintar, kaya, dan punya jabatan. Orang cenderung menganggap apa yang dicapainya sebagai reward, bukan amanat.

Huruf dan pedang memiliki aturan main yang sama. Tersirat dari kata Yu Shu Lien, ”Pedang main karena digunakan, aturan main pun mengikuti pemiliknya.” Kemudian, saat menjumpai Jen yang sedang menulis nama Yu dalam huruf Cina, dia berkata,”Huruf YU seperti huruf PEDANG. Aturan main pedang dan menulis saling berkaitan.” Huruf dan pedang – tulisan atau ucapan, ilmu pengetahuan dan teknologi, kekayaan, kekuasaan – sama-sama berbahaya di tangan orang yang salah.

Atas dasar itulah, setelah mengetahui pelakunya, Li bersikeras menjadikan Jen sebagai muridnya. Sebab jika tidak, ”Dia akan menjadi Naga Pembunuh.” Perhatikan wejangan Li kepada Jen di tengah pertarungan duel mereka yang ciamik, di tanah, berlari di tembok, dari atap ke atap, hingga di pucuk pohon bambu.

“Bila terkulai, tak lurus. Jangan gunakan gagang panjang. Tiada halangan. Tidak kacau. Tiada bayangan. Tidak berubah. Pikiran tidak kacau. Korbankan kepentingan diri sendiri demi orang lain. Kuajarkan bagaimana jadi manusia. Sempurnakan akhlak silat, baru dapat mencapai ketenangan, dan pantas menyandang Pedang Qingming.”

Kalimat ini bermakna, bahwa ilmu pengetahuan, teknologi, kekayaan, kekuasaan tidak bisa berdiri sendiri, terpisah dari akhlak dan kebudayaan manusia. Seseorang yang bekerja dalam bidang apa pun (politik, manajemen, bisnis, wiraswasta, dan sebagainya), mengemban misi pencerahan bagi dunianya untuk menjadi berbudaya. Jika tidak, sepintar apa pun ilmu, sekaya apa pun, sebesar apa pun kekuasaan seseorang, itu tak ada artinya. Bukan cuma kehilangan makna, tapi juga membahayakan harkat manusia sendiri.

Bagi Li, ilmu silat atau pedang pusaka lantas tidak menjadi tujuan, melainkan sekadar sarana mencapai tujuan, yang tak dibutuhkan lagi ketika tujuan sudah tercapai. Tutur Li kepada Yu, ”Saat tangan digenggam, kau tak punya apa pun. Saat lepaskan kepalan, kau memiliki segalanya. Duduk begini, aku malah merasakan ketenangan.”

Demikianlah, seluruh tokoh utama dengan jalannya masing-masing memburu kebahagiaan, namun tak seorang pun mendapatkannya (sebuah akhir cerita yang tidak disukai penggemar happy ending). Li yang berniat meminang Yu, baru bisa menyatakan cintanya sebelum dia mati. Lo (Chang Chen) yang berkelana menyusuri Gurun Gobi untuk mencari kekasihnya, ternyata hanya untuk menyaksikan Jen bunuh diri dengan terjun dari jembatan Kuil Gunung Wudang, ke sebuah tempat dalam impian kebahagiaan abadi. Tinggallah Yu dan Lo, sendiri-sendiri dalam lamunan yang panjang.

Jakarta, 31 Januari 2003