February 10, 2006

Welcome, Playboy Indonesia!

ILLUSTRATED BY PLAYBOY MAG
SETIAP kali memikirkan majalah Playboy, saya membayangkan Hugh Marston Hefner dengan kimono sutera sedang bersantai di Playboy Mansion West miliknya di Los Angeles, melepas kepenatan bersama 6-8 TTM (teman tapi mesra)-nya yang berpinggul brontosarus. Atau, ia tengah menyesap red wine bertahun kelahirannya, 1926, di dalam pesawat jet pribadi yang melesat di atas 36.500 kaki Samudera Atlantik. Bersamanya, dalam perjalanan mengunjungi imperium bisnis Playboy, ia didampingi seorang asisten pribadi berambut panjang yang diikat dengan scarf, menampakkan leher yang jenjang. Blus katun biru ketat yang dipakainya menonjolkan lekuk lembut payudara yang kencang. Perutnya mengintip sedikit, bercelana panjang putih dari katun dan membungkus tungkai panjang yang terjulur dengan betis ditumpangkan pada kaki yang lain.

Anda pasti mengira hidup bapak pendiri Playboy itu menyenangkan (saya kira juga begitu), sehingga ada banyak sekali lelaki di dunia mau menukar kehidupannya dengan Hef meski satu hari saja. Mungkin itu sebabnya Opa Hef panjang umur. Sewaktu merayakan 50 tahun penerbitan Playboy pada Januari 2003, ia berseloroh, “Ada tiga penemuan besar dalam peradaban, yaitu api, roda, dan Playboy .“

Penyetaraan api, roda, dan Playboy tak berlebihan jika sebuah “temuan kecil yang menghasilkan implikasi besar” jadi ukuran. Satu dekade sejak terbit perdana tahun 1953, Playboy terjual lebih dari sejuta eksemplar per bulan. Tahun 1960-an, Hef sudah menjadi ikon “lelaki sukses karena impiannya.”

Tahun-tahun itu, ia memandu sebuah acara populer bertajuk Playboy’s Penthouse yang ditayangkan melalui sindikasi televisi. Ia juga mendirikan Playboy Mansion dan membuka Playboy Club pertama di kota kelahirannya, Chicago. Hef menulis rutin editorial Playboy (The Playboy Philosophy) yang memperjuangkan hak-hak sipil seperti kebebasan berekspresi. Kolumnis Bob Greene, pada masa itu menyebut Hef dan Playboy sebagai “a force of nature” (kekuatan alam). Tahun 1971 sejak Playboy Enterprises go public, sirkulasi majalah Playboy mencatat 7 juta eksemplar per bulan.

Itu belum seberapa. Playboy Enterprises juga mengelola 23 Playboy Clubs, sejumlah resor, hotel, dan kasino dengan lebih dari 900 ribu anggota dari penjuru dunia. Tahun 1980, komunitas Hollywood mengabadikan nama dan cap kedua telapak tangannya dalam walk of fame. Di usia menjelang 80 tahun (9 April mendatang), Hef masih sibuk dan menyibukkan diri. Pertengahan 1980-an, setelah kewenangan sebagai CEO Playboy Enterprises diserahkan kepada puterinya, Christie Hefner, ia kembali meneruskan kepemimpinan di redaksi penerbitan serta tevekabel dan produksi video Playboy.

Kepemimpinan Hef dikenal sangat inspiratif dan visioner. Dikenal juga sebagai seorang pemimpin ber-IQ 152 dan ia suka memublikasikan parameter kecerdasan yang membanggakan ini. Dengan begitu, seolah ia ingin berkata kepada dunia, “Anda pikir otakku cuma setingkat ini?” (sambil menunjuk bagian bawah perutnya).

Citarasa komunikasi visual dan sense of humour-nya yang genial menjadikan Playboy dikenal luas hingga sekarang. Orang-orang boleh tak suka pada foto-foto Playboy yang – menurut mereka – porno, tapi tidak lantas merasa muak dan membencinya seumur hidup. Spektrum isi yang luas dan fleksibel terhadap isu-isu mutakhir tentang segi-segi kehidupan dan digarap penuh dedikasi, memungkinkan Playboy diapresiasi layak, baik oleh kalangan yang pro maupun kontra. Singkatnya, Playboy berhasil melakukan sublimasi kultural: mengubah dorongan naluri primitif menjadi sesuatu yang dapat diapresiasi oleh masyarakat yang beradab.

Fakta bahwa Playboy merupakan majalah yang diterima luas – semisal dengan adanya Kanal Playboy, pertunjukan Playboy Bunny, dan aneka pertunjukan di Playboy Club oleh aktor yang juga psikolog Bill Cosby – berarti ia dianggap masyarakat tak merugikan secara keseluruhan. Elaine Fox, eksekutif hubungan masyarakat untuk Playboy pernah berkata, “Playboy belum pernah terbukti bersalah secara pornografis di pengadilan mana pun.” Setiap model (terutama yang pernah berpose untuk Playboy) umumnya melukiskan Playboy “erotis dan sensual,” tapi sama sekali tidak pornografis.

Di Indonesia, banyak sebetulnya orang kita yang (diam-diam) menyukai Playboy. Ada yang memang berlangganan, oleh-oleh dari luar negeri, meminjam koleksi teman atau berjuang mendapatkan edisi lawasnya di lapak-lapak dekat Terminal Senen.

Di kalangan pembaca serius dan rakus bacaan seperti saya, Playboy menjanjikan liputan tentang isu penting yang ditulis mendalam dan memikat, sekaliber reportase yang dilakukan oleh para kontributor majalah feature seperti The New Yorker, Granta, Harper's Magazine, dan Vanity Fair. Begitu pula wawancara dengan tokoh-tokoh penting dunia – taruhlah Jimmy Carter dan Donald J. Trump – acapkali menyajikan kedalaman perspektif dan tetap menghibur.

Dari aspek jurnalisme, Playboy patuh pada standar etis-profesional pers, sesuatu yang masih diabaikan (atau memang tidak tahu) oleh majalah yang mencoba jadi epigon Playboy di sini. Ambil contoh by line (pencantuman nama penulis/wartawan di depan artikel dan firewall (pagar api atau garis tipis pemisah antara artikel dan iklan), sudah lama Playboy menerapkannya.

Jika atas nama pornografi – karena kini DPR sedang menggodok RUU Antipornografi dan Pornoaksi – Playboy dilarang terbit, maka bukan saja orang-orang seperti saya akan kehilangan kesempatan menikmati Playboy rasa Indonesia; tindakan itu tergolong diskriminatif dan cenderung represif.

Kita tahu, keberhasilan Playboy melahirkan para epigon lokal. Tahun 1991, kepada saya mantan Wakil Pemimpin Redaksi N. Riantiarno, terang-terangan mengakui isi majalah Matra menggabungkan konsep majalah Playboy dan Esquire. Dibanding Matra, majalah Popular justru lebih erotis dan sensual. Ada pula lisensi seperti For Him Magazine (FHM) yang ke-playboy-playboy-an. Jadi, kalau penerbit Playboy Indonesia telah menjamin takkan meniru kelakuan Playboy induknya dan mengatur distribusinya jatuh ke tangan yang tepat, lalu mengapa kita bersikukuh menolaknya? Tidakkah sebaiknya kita memberi kesempatan yang sama? Penerbit pasti cukup mafhum pada kepekaan sebagian masyarakat Indonesia terhadap reputasi kontroversial Playboy selama ini.

Kita tidak dapat mencegah terbitnya Playboy Indonesia dengan alasan kekhawatiran di tengah liberalisasi media pascareformasi sedang berlangsung. Tidak juga bisa melarang perempuan untuk berpose – ini hanya soal waktu – tapi kita dapat menggugah orang untuk meninjau kembali nilai-nilai dan tindakannya, serta berbagai pengaruh yang mungkin timbul akibat keputusannya itu. Misalnya, bagaimana penerbit Playboy Indonesia menepis tuduhan kaum feminis? Bahwa Playboy mengukuhkan stereotip seksual dengan menggambarkan perempuan sebagai obyek seksual. Jangan lupa, gerakan perempuan dewasa ini mengaitkan pornografi dengan perempuan yang digebuki, perkosaan, incest, penganiayaan anak, dan pelecehan. Demikian pula kalangan kontra, yang sebetulnya tak cuma mempersoalkan perempuan telanjang atau ketelanjangan; pornografi menyangkut kekerasan, bukan sensualitas.

Playboy mengkhawatirkan justru karena sudah diterima begitu luas dalam masyarakat. Tanpa kehadiran Playboy pun, banyak media cetak dan situs cabul lokal di internet beredar. Orang membayangkan, bagaimana seandainya Playboy ada? Penerimaan publik terhadap majalah Playboy dikhawatirkan merangsang terbitnya publikasi lain yang lebih ofensif secara seksual dan lebih eksplisit seperti majalah Hustler. Pornografi lunak (soft-porn) Playboy memungkinkan pornografi keras kelak menjadi makin keras (hard-core), untuk disiarkan di media massa. Ini berarti, Playboy Indonesia turut bertanggung jawab untuk menjamin bahwa penerbitannya tak merugikan masyarakat luas sebagaimana kekhawatiran para penentangnya.

Cimanggis, 9 Februari 2006

February 8, 2006

Hanya Sepenggal Fiksi

ILLUSTRATED BY ANONYMOUS
PERTENGAHAN 2006 ini, umat Kristen sedunia akan dihantui oleh film baru besutan Hollywood, The Da Vinci Code. Saya tak bermaksud menakut-nakuti Anda dengan kata dihantui. Lagi pula, film ini bukan termasuk genre horor. Namun, jika penulis skenario dan sutradara tetap setia memelihara plot novelnya, maka The Da Vinci Code layak dikategorikan sebagai horor. Sebab ia menjanjikan fantasi yang kelewatan dalam konteks Kekristusan Yesus – sebuah wilayah keagungan spiritual – tempat umat Kristen menyandarkan keimanannya selama ribuan tahun.

Tentang bagaimana novel ini memukau pembacanya, tak perlulah diungkapkan di sini. Bagaimana pun ia tetap sebuah novel standar dengan latar belakang kota London yang muram dan sisi Paris yang suram, yang dapat dibikin oleh para penulis Barat berbakat lain. Yang membuatnya “bicara”, karena ia mengusung empat tesis utama: Yesus dan Maria Magdalena adalah pasangan suami istri yang membuahkan putri bernama Sarah, keilahian Yesus baru diamini pada Konsili Nicea di abad ke 4, Alkitab ditulis ulang berdasarkan konspirasi politik pada masa Kaisar Konstantin, Gereja menipu kaum perempuan, dan baik Alkitab maupun Gereja sebenarnya antiseks.

Tesis tersebut, kita tahu, merupakan isu basi yang mengerat Kristianitas sepanjang sejarah. Lalu, apa kaitannya dengan kode yang menyeret nama besar Leonardo Da Vinci? Kalau Da Vinci bisa hidup kembali, ia akan menjawab, “Mr. Brown, kita sama-sama seniman. Jangan bawa-bawa namaku ke dalam kesalahpahaman seperti yang dialami Nicolò Machiavelli.”

Lewat sosok Prof. Robert Langdon (diperankan oleh Tom Hanks), ahli simbologi agama dari Universitas Harvard – tokoh utama rekaan di The Da Vinci Code – Dan Brown, penulisnya, ingin membagikan sedikit rahasia kepada kita. Brown ingin kita percaya, bahwa Da Vinci sebetulnya dengan sengaja menyisipkan berbagai petunjuk tersamar (code) dalam karya seninya, yang jika ditemukan dan dipecahkan secara tepat, akan mengungkapkan kebenaran tentang Yesus. Faktanya, tidak ada bukti bahwa Da Vinci – meskipun ia menguasai teknik rumit seni rupa di masanya – pernah melakukannya.

Lebih penting lagi, Brown ingin kita percaya pada tesis historis (baca: his stories) Prof. Langdon dengan mencampakkan fakta sejarah tradisional dan keutamaan yang diyakini oleh umat Kristen berabad-abad. Ini adalah situasi pilih-salah-satu. Jika salah satu benar, yang lain salah; tidak bisa keduanya benar pada saat bersamaan.

Kita semua tahu, ada banyak kesalahan Gereja di Abad Pertengahan yang tidak termaafkan. Yang mencolok, inkuisisi Katolik Roma, di mana orang disiksa dan dibunuh jika mereka menyimpang dari dogma serta struktur Gereja pada masa itu. Jelas, Gereja bukanlah museum yang berisikan para santo dan martir, tetapi sebuah laboratorium bagi orang-orang berdosa. Tapi, apakah hanya karena fakta itu kita lantas membuang benih yang ada, yang sebelumnya ditaburkan oleh Sang Penabur Kekristenan?

Mengapa Ia mau disiksa, dihukum sekejam itu? Jika Ia tidak percaya DiriNya Putera Allah, mengapa Ia tidak mengakui penipuanNya dan menghindari penderitaan? Para pengikut pertama Yesus juga dapat menghindari penderitaan yang tak perlu, kalau saja mereka mau. Namun, mengapa mereka yang saya sebut namanya di bawah ini tidak melakukannya?

Simon Petrus disalib di Roma. Atas permintaannya, ia disalib dengan kepala di bawah, “Aku tidak pantas mati dengan cara yang sama dengan Yesus.”
Paulus dipenggal oleh Kaisar Nero tahun 66 M.
Yakobus anak Zebedeus dipenggal kepalanya.
Stefanus dirajam batu oleh sekelompok orang pada 38 M.

Jadi, jika benar tesis Brown bahwa keilahian Yesus baru “ditetapkan” berdasarkan voting di antara para uskup di Nicea pada abad ke 4, maka mereka ini mati sia-sia.

Konsili Nicea berlangsung 14 tahun setelah penganiayaan terakhir terhadap orang-orang Kristen di tangan Kaisar Galerius. Pertemuan diselenggarakan untuk menolak doktrin M. Arius yang mempromosikan ide lewat surat ke gereja-gereja, bahwa Yesus adalah makhluk ciptaan. Bukan “Anak Allah yang terkasih” sebagaimana status yang sudah diyakini pengikutNya selama 300 tahun terakhir. Beberapa tahun sebelum Konsili Nicea digelar, ajaran Arius sudah ditentang oleh Alexander, uskup Alexandria. Tahun 321 M, di sebuah konsili lokal, ajaran Arius dinyatakan sebagai bidaah (sesat).

Sebagai jawaban atas penolakan ajaran Arius, para uskup yang berkumpul di Nicea menyusun pengakuan iman, yang kelak disebut Syahadat Para Rasul. Salah satu isinya, meneguhkan kembali keilahian Yesus, status historis yang telah berlaku jauh sebelumnya. Di mata Brown, pengabsahan teologis oleh Gereja purba ini terkesan seperti propaganda politik belaka. Berbeda dari novel Brown yang berisikan “kisah besar yang bisa dijual”, banyak di antara para uskup di masa itu harus membayar iman mereka dengan darah.

Tepat seperti perkiraan Anda, mungkin saya mulai kehilangan cita rasa humor ketika merespons The Da Vinci Code. Terlalu serius. Padahal, sungguh mati, saya benar-benar menyukai humor. Mungkin Anda pernah dengar humor satu ini:

Dikisahkan Tuhan menegur seorang Muslim yang sedang menangis sedih. Tuhan Maha Tahu bertanya (persisnya, pura-pura bertanya), “Kenapa kau menangis, Pak Haji?”

“Ya, Allah!” Pak Haji terkejut, sama dengan keterkejutan nabi-babi di Perjanjian Lama, saat mendengar suara dari langit. “Mohon ampun, ya Allah, karena hamba telah mengecewakanMu.”

“Hmm ... apa maksudmu?”

“Hamba telah gagal sebagai seorang ayah,” Pak Haji berkata dengan penyesalan mendalam. “Salah satu dari tiga anak hamba masuk jadi Kristen.”

“Kau masih untung,” Tuhan menyahut. “Sedangkan Aku, punya anak tunggal, Kristen pula.”

Berbeda dari cerita yang tak jelas siapa pengarangnya itu, Brown kelihatannya tidak sedang bercanda. Pertama, karena novel itu sendiri menegangkan (suspense-thriller) dengan alur begitu cepat. Keseriusan risetnya jauh di bawah novel The Name of the Rose (1980) karya Umberto Eco, tapi sedikit di atas novel The Last Temptation of Christ (1987) karya Val McDermid. Penggalan kisah di setiap akhir bab melontarkan pembaca ke bab berikutnya. Mengikuti tokoh protagonisnya, Prof. Langdon, memecahkan anagram misterius menjadikan buku ini sulit ditinggalkan. Brown memiliki insting seorang novelis misteri yang selalu dicari oleh penerbit ambisius.

Setahun setelah pertama kali diterbitkan pada 2003 di Amerika Serikat, novel bersampul keras (hardcover) ini terjual lebih dari 7,2 juta eksemplar. Setelah beberapa bulan menduduki nomor satu di semua daftar utama buku terlaris di AS, hingga kini The Da Vinci Code sudah diterjemahkan ke dalam lebih dari 40 bahasa.

Kedua, ia mengklaim – tertulis di halaman prolog – bahwa seluruh deskripsi karya seni, arsitektur, ritual, rahasia, organisasi rahasia, yang tersebar di sekujur novelnya adalah fakta sejarah(!). Jadi, pembela tesis Brown pasti akan berkata, “Semua yang dikatakan penulisnya adalah fakta, meskipun novel itu fiksi.”(?)

Meski begitu, karya ini juga tidak begitu saja bisa dianggap non-fiction atau kategori bagi karya jurnalisme yang ditulis dengan gaya bertutur (literary journalism). Bahkan – jika The Da Vinci Code dianggap novel sejarah – ia bukanlah sejarah serius, namun sepenggal fiksi yang tidak bisa diuji. Brown, sekadar seorang pendongeng horor yang mengumpulkan dan menyuarakan catatan kaki suatu sejarah, hanya dilecut oleh keberaniannya yang ganjil untuk mencobanya mendaur ulang. Untuk sementara, ia sudah memperoleh apa yang diinginkannya sebagai novelis: ketenaran dan royalti.
Cimanggis, 11 Januari 2006

February 2, 2006

Diplomasi Underwear

ILLUSTRATED BY SHERRI HEPLER
Surprise! Sebutkan corak atau model pakaian dalam yang kamu pakai saat wawancara ini berlangsung!

Celana dalamku warna merah marun dan bra-ku warna krem, biar warnanya sama dengan warna kulit, karena mau difoto ‘kan? (nukilan sebuah tabloid hiburan terkemuka)

MIRIP hasil audit long form akuntan PwC, urusan jeroan selebritas kini jadi konsumsi publik. Keduanya muncul dari desakan. Yang pertama didesak oleh IMF dan aspirasi masyarakat. Yang kedua didesak oleh persaingan ketat antarmedia infotainment.

Ketika underwear bukan lagi urusan “dalam negeri” seseorang, maka batas wilayah “rahasia” menjadi sengketa. Pro dan kontra. Yang pro mengatasnamakan kebebasan (suka-suka orang kan mau ngasih tau). Yang kontra mengatasnamakan kesusilaan (kira-kira dong, kayak nggak ada cerita lain). Tapi sudahlah, talk show ini berpotensi memecah belah persatuan dan kesatuan. Biasanya diakhiri dengan saling tuduh. Munafiklah. Kebarat-baratanlah. La la la la ...

Pakaian dalam memang seperti sihir. Sebagus, semahal apa pun, ia tak bermakna semasih dipajang di toko atau di tali jemuran. Laksana gombal yang tak menginspirasi apa-apa. Tapi, bayangkanlah bila ia dipakai oleh artis SL, SA, IK, FF, CK atau idola Anda. Alamak!

Sihir terhadap perasaan khayali dilakukan sangat baik oleh iklan. Di tangan para kreator, seluruh produk dipersonalisasikan sebagai preferensi gaya hidup (stylization). Apa yang kita lihat sebagai kebebasan, sesungguhnya adalah rokok. Apa yang kita lihat sebagai seks, ternyata adalah sabun. Apa yang kita lihat sebagai petualangan, sesungguhnya adalah jeans. Apa yang kita lihat sebagai cinta, ternyata adalah kondom. Apa yang kita lihat sebagai gairah, sesungguhnya adalah mobil. Apa yang kita rasa sebagai seductive, ternyata adalah minuman suplemen. Jadi, iklan bisa dipahami sebagai diplomasi underwear.

Filsuf Prancis Jean Baudrilard (1985) mencatat, kita tengah hidup dalam realitas hiper (hyper-reality). Segala sesuatu adalah tiruan, atau tiruan dari sebuah tiruan. Yang palsu tampak lebih nyata tinimbang kenyataannya. Realitas telah melahap segalanya. Segala sesuatu mengklaim realitas ke(tidak)adilan yang sama.

Meski merupakan generasi sadar media, masyarakat kini bukannya mencari kebenaran. Mereka malah melakukan peniruan secara sadar terhadap media, yaitu mengadopsi kepribadian karakter fiktif sebagai cara merefleksikan diri. Mereka membahas kehidupan pribadi melalui analogi cerita sinetron atau telenovela. Mereka bercakap sambil mengutip ucapan selebritas dan keywords iklan. Secara reflektif, mereka sebetulnya sadar. Mereka tahu saat terperdaya dan termakan diplomasi underwear.

Dulu, selama hampir dua dekade sejak 1970-an, kemewahan merupakan ciri utama pusat perbelanjaan. Kini, mal dan plaza mengartikulasikan ideologi kekeluargaan. Etalase ditampilkan dalam tata lampu mutakhir dan gugahan teatrikal. Kantung atau tas plastik pembungkus barang belanjaan, bercap toko atau vendor. Lantas, dengan bangganya kita tenteng. Tanpa sadar, kita rela menjadi spesies papan reklame. Semua benda berlogo merk suatu produk, sebetulnya sebuah esai ringkas tentang aspirasi sosial dan realitas ekonomi.

Para perempuan yang dulu dikenal berpenampilan sebagai istri dan ibu, kini bergeser menuju individu feminin yang glamor dan sensual bak selebritas. Mereka perempuan baru yang (“dipaksa”) ideal. Mandiri tapi feminin. Berkarir tapi a nice housewife. Gemuk tapi fashionable. Jelek tapi pe-de.

Demikian pula para gadis belia. Mereka terobsesi pada dunia (boneka) Barbie yang mempertahankan citra dirinya sebagai gadis ceria. Punya tubuh ideal (39-18-33), punya karir (ingat versi career girl Barbie?) dan kekasih klimis bernama Ken.

Diplomasi underwear yang diperantarai oleh kebanyakan majalah perempuan, sebenarnya merupakan resistensi kaum perempuan terhadap kehidupan puritan (old fashioned). Mereka percaya pada gagasan bahwa kecantikan – sebagai elemen feminitas – dapat dicapai oleh setiap perempuan dengan penggunaan produk yang tepat. Melalui berbagai cara, tubuh perempuan dipilah-pilah menjadi sejumlah bagian (cara ini mengingatkan kita pada kegiatan di kios daging). Pada bagian tubuh itulah produk-produk kecantikan mencari pasarnya.

Majalah perempuan yang berisi seputar masakan, fashion, tips kecantikan dan rumah idaman, kelihatannya saja ingin menampilkan komoditas. Tapi sesungguhnya – bersama iklan-iklan yang menggemaskan – sedang berusaha menjual penampilan, citra, dan sebuah dunia.

Diplomasi ini menciptakan kecemasan-kecemasan kecil. Bahwa bila perempuan tak memenuhi standar tertentu, maka mereka takkan dicintai. Mereka sibuk membenahi sejumlah bagian tubuhnya agar tampak lebh erotis dan sempurna (erotogenik). Baik sekadar senam body language, sedot lemak, maupun permak bodi ala ketok magic. Sebagai pemberlakuan otonomi daerah, bagian tubuh sekecil apa pun dewasa ini menuntut penanganan secara khusus dan saksama. Dari rambut, kelopak mata, hidung, pipi, bibir, gigi, kulit, tangan, jari, siku, lengan sampai telapak (bahkan sampai vagina) dibuat kiat perawatannya (special treatment).

Dengan keyakinan (bahwa kecantikan bisa direnggut melalui penggunaan produk/terapi yang tepat) itu, kaum perempuan kini memandang feminitas sebagai masquerade alias penyamaran. Istilah yang diperkenalkan oleh Janice Winship (1987) ini menjelaskan, masquerade ialah semacam transformasi diri yang menjelmakan tiga sosok sekaligus. Yakni “sebagai konsumen bagi diri sendiri”, “sebagai hak milik”, dan “sebagai komoditas”. Hal ini mudah dipahami melalui psikoanalisis kesadaran ala Freud. Bahwa dibanding lelaki, perempuan memiliki gejala narsisisme atau kecenderungan mengagumi tubuh sendiri, menampilkannya di depan orang lain, sehingga orang lain dapat menikmati pula kekaguman itu (mohon, jangan sama dengan ekhibisonis).

Sejak kecil, perempuan lebih terlatih untuk senantiasa meneliti diri sendiri. Inilah preseden historis yang mesti ditanggung sepanjang hayatnya. Mereka melihat diri sendiri sebagai objek. Di kala lelaki melihat perempuan, perempuan melihat dirinya sendiri yang sedang dilihat lelaki.

Objektifikasi gender berlangsung universal. Lelaki dikenal lewat sikapnya. Perempuan dikenal lewat penampilannya. Tentu saja (kalau) plus cerdas lebih baik. Pada masyarakat kontemporer, sudah jamak bahwa sang istri seolah-olah menjadi aksesoris penampilan sang suami. Banyak pejabat tinggi atau pengusaha beken menyandarkan status sosial pada penampilan sang istri. Dalam banyak hal, meng-up grade penampilan perempuan relatif bernilai tambah ketimbang bersusah payah kerja keras agar menjadi newsmaker.

Tanpa “dukungan” si istri, si suami mungkin akan seperti underwear yang sedang dijemur. Sebaliknya, performance perempuan nyaris tak terpengaruh oleh eksistensi pasangannya. Anda lebih mengenal Su Kyi dari Myanmar, Benazir Bhuto dari Pakistan, Margaret Thatcher dari Inggris, Condoleeza Rice dari AS, Gloria Arroyo dari Filipina. Tapi, Anda samasekali tak kenal siapa pasangan mereka. Berbeda misalnya dengan Bill Clinton atau Donald J. Trump. Bahkan pacar gelapnya Pangeran Charles pun dulu kita tahu.

Jadi baiklah, apa jenis pakaian dalam Anda saat membaca tulisan ini? G-string atau sporty? Lebih suka mana, tank top atau baby-T? Bra atau no-bra?

Cimanggis, 29 Januari 2006