February 21, 2003

Dua Hati, Satu Denyut Jantung

ILLUSTRATED BY JAMES RYMAN
KISAH suatu perkawinan bisa dimulai dari pasangan bercinta. Saya punya paman, seorang duda tanpa anak. Hidungnya besar, kacamatanya tebal. Dia baru punya teman kencan yang kesekian. Umurnya dua kali lebih muda daripada umur paman. Enam tujuh bulan yang lalu, pernah saya bertanya, ”Apakah dia sudah bilang bahwa dia mencintai paman?”

“Belum.”

“Kenapa paman tidak tanya?”

“Terus terang, aku tidak berani. Tadi kamu bilang apa? Cinta?”

“Ya. Paman mencintai dia, kan?

“Begini ya. Berapa umurmu sekarang?”

“Tiga enam.”

“Oh.”

“Oh?”

“Orang seusiaku … ck, kamu pasti tidak akan mengerti.”

“Oh.”

“Ah, sudahlah.”

“Saya hanya mencemaskan paman.”

“Kenapa cemas? Kamu pikir aku sudah tidak waras?”

“Saya memikirkan kebebasan paman. Hidup paman.”

“Aku terharu mendengarnya. Terima kasih.”

“Saya serius.”

Suasana hening beberapa saat.

“Bagaimana dia?” tanya saya kemudian.

“Menurutku cantik, penuh perhatian, lembut … God damn it, aku kesepian selama ini!”

Cantik? Pertanyaan itu menggelitik saya – sambil membayangkan hidung besarnya – sampai bertemu lagi dengan paman di sebuah restoran yang sama, sepekan setelah pertemuan pertama. Kali ini dia berjanji akan membawa teman kencannya.

“Kenalkan, ini calon bibimu,” ujar paman saat saya datang terlambat.

God damn it! Gadis ini tidak bisa dianggap cantik. Cantik sekali! Mendadak saya kikuk dan merasa dunia ini tidak adil terhadap saya. Saya jadi “obat nyamuk” (yang tak henti-hentinya mencuri pandang gadis itu) bagi mereka. Ingin rasanya saya berkata kepada paman, ”Tolong belikan rokok di Cirebon.”

Di tengah obrolan makan malam yang “berkecamuk” itu, sering saya melihat air muka Paulina, nama si gadis itu, memancarkan rasa bahagia setiap mendengarkan paman berbicara. Tak habis pikir dan tak dapat tidak, muncul pertanyaan dari lubuk hati saya: bagaimana paman bisa memukau gadis semolek itu? Padahal, sulit bagi saya menemukan ketampanan wajah paman. Toh, rupanya tidak sulit bagi Paulina.

Kadangkala, ketampanan memang bukan menjadi soal. Modulasi suara saja seringkali cukup. Ada lelaki yang menggairahkan bila dia mulai berbicara. Sebaliknya, ada lelaki tampan yang sebaiknya jangan membuka mulut karena ditakdirkan bersuara sumbang. Saya memetik pelajaran: orang yang punya pikiran sehat tentang cinta, tidak bisa mencintai. Justru orang yang tidak punya pikiran sehat tentang cinta, bisa mencintai. Dengan kata lain: mencintai adalah mengagumi dengan hati; mengagumi adalah mencintai dengan pikiran.

Lagi-lagi, kita suka memenjarakan pikiran dengan hal-hal stereotype tentang suatu kisah cinta. “… demikianlah, Cinderela akhirnya dipersunting oleh pangeran yang baik hati,” begitu kalau Hans Christian Anderson mengisahkan tokoh-tokoh dongengnya. Romeo dan Juliet. Anthony dan Cleopatra. Paulo dan Francesca. Heolise dan Abeolard. Aucassin dan Nicolette. Sampek dan Engtay. Kita – Anda dan kekasih Anda, saya dan kekasih saya – bagaikan pasangan yang akan naik kapal Nabi Nuh. Macan dan macan. Zebra dan zebra. Tutul-tutul dan tutul-tutul. Garis-garis dan garis-garis.

Kita tidak antusias mendengar dongeng yang lain tentang kisah cinta Quasimodo – lelaki bongkok di Notre Dame – dan Esmeralda atau Beauty and the Beast. Pada kenyataannya, “pasangan janggal” seperti itu lebih banyak memenuhi kapal Nabi Nuh.

Kita boleh tak percaya bahwa dengan label “cinta” saja mereka mau menyandarkan harapan dan kepercayaan satu sama lain. Ketahuilah, cinta memiliki logikanya sendiri (seperti juga matematika cinta: satu ditambah satu sama dengan segalanya; dua dikurangi satu sama dengan tidak ada). Kata “cinta” seringkali dipakai sebagai label bagi gairah seksual kaum remaja; bagi kebiasaan kaum setengah baya; dan bagi saling ketergantungan kaum lanjut usia. Tapi bagi orang yang sudah dewasa (seperti paman), cinta hanya merupakan keinginan memiliki seseorang yang mengkhawatirkannya ketika dia pulang larut malam.

Dalam kehidupan berpasangan (boleh baca: perkawinan) sesungguhnya, terdapat hal-hal yang sepadan maupun tak sepadan. Memang klise, namun tak ada cara lain kecuali saling mengisi. Keburukan ditanggung bersama dan saling memikirkan. Bersama satu tujuan dan keinginan, di situlah mereka tumbuh. Dua hati dengan satu denyut jantung.

Di atas kertas, dua orang yang telah saling mencintai, saling percaya, dan saling menghormati, bisa saja bersepakat menghabiskan sisa hidup bersama. Mereka akan membangun sesuatu yang bagi orang lain tampak sepele, tapi sebenarnya sangat rumit, yaitu sebuah bahtera yang akan bertahan terhadap segala cuaca. Pada praktiknya, orang menikah karena berbagai alasan. Mereka menghabiskan seluruh sisa hidupnya dalam rakit terpisah yang diikat dengan seutas tali. Rakit itu akan tetap terapung selama orang yang membuatnya lebih suka membicarakan kerusakannya daripada ancaman buaya atau angin topan. Sebuah kapal mungkin hanya menjadi suatu alat untuk mempertahankan diri. Atau, alat untuk menemukan suatu tempat. Jalannya mungkin tak tentu arah dan perbaikan strukturnya serampangan. Tapi jika kapal itu masih terapung, ia, dengan segala keunikannya tetaplah sebuah kapal.

Satu-satunya hal yang tidak menguntungkan dari kehidupan perkawinan, barangkali adalah kita hanya memiliki seorang teman dalam dunia yang acuh tak acuh. Oleh sebab itu, saya percaya bahwa perkawinan yang berhasil bukanlah hadiah; itu merupakan prestasi. Sebab, kelihatannya saja cinta merupakan hal tercepat di dunia, tetapi sebenarnya pertumbuhan cinta adalah hal yang terlambat di dunia. Tak seorang pun yang benar-benar mengetahui bagaimana cinta yang sempurna itu, hingga mereka telah menikah selama seperempat abad, bahkan mungkin seumur hidup.

Jakarta, 20 Februari 2003

February 17, 2003

Goyangan Itu

ILLUSTRATED BY KELLY JADE THOMAS
DIALAH sripanggung yang sekarang membuat malamnya lelaki jadi impian dan siangnya jadi kenangan. Dia seorang perempuan 24 tahun dari Pasuruan bernama Ainul Rokhimah. Tapi, biar berkesan gimanaaa gitu, dia dipanggil Inul Daratista.

Mirip legenda Rara Mendut pada zamannya – seorang perempuan rupawan yang sukses mengilusi rokok sebagai simbol sensualitas dan birahi – goyangan Inul menerkam perhatian massa. Menghisap lisong yang dikulum dan dinyalakan dari bibir Mendut, bisa membakar adrenalin lelaki mana pun saat itu. Menyaksikan (maaf) bokong Inul yang berputar-putar seperti ngulek sambel, konon bisa menggoyang iman.

“Iman sih kuat. Tapi si amin ini … alamaaak!” cetus seorang teman berkelakar.

Atraksi Inul yang kini dipergunjingkan di mana-mana, kembali menegaskan bahwa dunia ini sebetulnya di bawah otoritas lelaki (jujur saja, sebagai lelaki, saya malu karenanya). Sebuah dunia yang menempatkan kaum perempuan sebagai medium fantasi kaum lelaki. Dunia fantasi. Dan untuk urusan fantasi, perempuan tak memiliki sebanyak lelaki. Cinta, misalnya, merupakan sejarah lengkap kehidupan perempuan; tetapi hanya sepenggal episode dalam kehidupan lelaki. Meski begitu, pemahaman lelaki terhadap dunia yang digenggamnya tidak juga lebih baik. Jika ada lelaki yang memuji-muji perempuan, tak berarti dia mengenalnya; pada kenyataannya, tidak mengenal perempuan itu. Tapi, lelaki yang memanfaatkan perempuan, mengenal lebih sedikit lagi. Menyaksikan goyangan Inul, hanya membuat kaum lelaki lebih mudah membaca pornografi daripada mengalami seks.

Inul, suka tidak suka, muncul di persimpangan jalan antara moral dan hiburan. Setiap pihak yang memilih jalannya masing-masing saling berpapasan muka, kemudian saling menoleh ke samping, saling menengok ke belakang, sebelum akhirnya bertemu lagi entah kapan. Tak ada kesepahaman, tapi bermusuhan pun juga tidak. Seringkali mereka bahkan tidur di satu ranjang.

Ketidaksepahaman terjadi karena orang memperlakukan moral dan hiburan secara terpisah. Mereka tidak melakukan apa yang seharusnya mereka lakukan. Yang tidak seharusnya mereka lakukan, mereka lakukan. Mereka sedang meyakinkan diri, bahwa perubahan akan menyelamatkan mereka tanpa perlu melewati serangkaian azab. Hei, apa yang sesungguhnya terjadi? Tenang, tidak ada apa-apa. Yang terjadi hanyalah keterbelahan kepribadian masyarakat. Kita.

Kita tidak bisa melenyapkan pornografi dengan melarang perwujudannya. Jika kita menyetujui logika bahwa perempuan yang bergoyang aduhai akan mendatangkan fantasi yang macem-macem, kita juga mungkin menyetujui logika bahwa perempuan yang makan pisang ambon di tempat umum akan mendatangkan fantasi yang enggak-enggak. Kegusaran moral adalah kecemburuan bermahkota. Hanya ada satu landasan moralitas yang dibentuk berdasarkan premis bahwa masyarakat sudah cerdas: berhentilah berbohong selamanya.

Saya tidak bisa menerima teori bahwa Inul menyebarluaskan hasrat pemerkosaan dan horor. Saya juga berpendapat bahwa nilai-nilai yang dianutnya patut dikecam. Mungkin juga tidak perlu dikecam, tapi jelas tidak bisa dibanggakan.

Orang yang menilai goyang Inul sebagai “gairah murahan” mungkin tidak terbiasa; mereka terbiasa dengan goyangan Camelia Malik, Kristina atau Liza Nathalia. Tidak ada perempuan tua atau gemuk dalam pertunjukan dangdut sebenarnya. Saya tidak menganjurkan seharusnya ada, tetapi tampaknya jika joget merugikan orang, orang itu adalah perempuan yang tidak bagus untuk ditampilkan di panggung pertunjukan.

Tak diragukan lagi bahwa ada sejumlah perempuan di negeri ini yang mau seperti Inul, (bahkan ada pula yang mau menanggalkan bajunya di depan mata penonton atau kamera), oleh karena itulah satu-satunya cara yang dapat dilakukan untuk mencari makan.

Jakarta, 16 Februari 2003